Senin, 15 Oktober 2012

Pengertian QIRO'AT dan AHLU QIRO'AT



BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Pada intinya ilmu qiroat mempelajari manhaj (cara, metode) masing-masing qurro’ sab’ah atau ‘asyroh dalam membaca Al-Qur’an. Hal ini biasa disebut dalam istilah qiroat dengan “ushul al-qori”. Kemudian satu hal lagi yang termasuk inti dalam ilmu qiroat adalah bagaimana para qurro’ sab’ah atau ‘asyroh membaca lafadh-lafadh tertentu dalam Al-Qur’an diluar manhaj mereka.

Untuk membaca Al-Qur’an dengan suatu qiroat atau riwayat diperlukan penguasaan ushul al-qori’ dan farsy al-huruf secara bersama. Karena jika hanya mengusai ushul al-qori tanpa farsy al-huruf atau mengusai farsy al-huruf saja sedangkan ushul al-qori’nya setengah-setengah, kemudian membaca Al-Qur’an dengan qiroat tertentu, akan kacau jadinya. Bukan Al-Qur’an dari sisi Allah swt yang ia baca, melainkan Al-Qur’an “made in “ dia sendiri. Dan jelas ini haram hukumnya! Biasanya orang yang membaca dengan qiroat, pasti pernah bertalaqqi langsung dengan syekh qiroat.

B. Rumusan Masalah

1. Apakah yang dimaksud dengan Qiroat ?

2. Apa macam-macam jenis Qiroat ?

3. Apa faedah dari keberagaman Qiroat ?

4. Apa syarat sah diterimanya Qiroat ?

5. Siapa saja Imam Ahlu Qiroat ?





BAB II

PEMBAHASAN

A. Pengertian

Menurut bahasa, qiroat jamak dari qiroah yang merupakan isim mashdar dari qoroa. Qiroah artinya bacaan.

Menurut istilah adalah ilmu yang mempelajari tata cara menyampaikan atau membaca kalimat-kalimat Al-Qur’an dan perbedaan-pebedaan yang disandarkan kepada orang yang menukilnya.

Qiroat ini didasarkan kepada sanad-sanad yang bersambung kepada Rasulullah saw. Periode Qurra’ yang mengajarkan bacaan Al-Qur’an kepada orang-orang menurut cara mereka msing-masing adalah dengan berpedoman kepada masa para sahabat.

B. Macam-macam Jenis Qiroat

I. Dari segi sanad :

Imam As-Suyhuti menukil dari Ibnu Jazari, bahwasannya qiroat dari segi sanad ada enam macam :

1. Mutawatir

Yaitu qiroat yang diriwayatkan oleh orang banyak dari orang banyak yang tidak mungkin terjadi kesepakatan di antara mereka untuk berbohong.

2. Masyhur

Yaitu qiroat yang sanadnya bersambung sampai kepada Rasulullah saw tetapi hanya diriwayatkan oleh seorang atau beberapa orang yang adil dan tsiqoh.



3. Ahad

Yaitu qiroat yang sanadnya bersih dari ‘ilat atau cacat tetapi menyalahi rosm Utsmani dan tidak sesuai dengan kaidah bahasa arab.

4. Syadz

Yaitu qiroat yang cacat sanadnya dan tidak bersambung sampai Rasulullah SAW.

5. Maudlu’

Yaitu qiroat yang dibuat-buat dan disandarkan kepada seseorang tanpa dasar.

6. Al-Mudroj

Yaitu qiroat yang ditambahkan ke dalam qiroat sebagai penafsiran. Seperti qiroah Sa’ad bin Abi Waqqosh :

II. Dari segi jumlah :

Sebutan untuk jumlah qiroat ada bermacam-macam. Ada qiroat enam, qiroat tujuh, qiroat delapan, qiroat sepuluh, qiroat sebelas, qiroat tiga belas dan qiroat empat belas. Tetapi dari sekian macam jumlah qiroat yang dibukukan, hanya tiga macam qiroat yang terkenal. Yaitu :

1. Qiroat sab’ah :

Adalah qiroat yang dinisbatkan kepada para imam qurro’ yang tujuh yang masyhur[1]. Mereka adalah :

· Qiroat Ibnu Katsir [2],

· Qiroat Ibnu ‘Amir [3],

· Qiroat Nafi’ [4],

· Qiroat Abu ‘Amru [5],

· Qiroat ‘Ashim [6],

· Qiroat Hamzah dan,

· Qiroat Kisa’i.

2. Qiroat ‘asyroh :

Adalah qiroat sab’ah di atas ditambah dengan qiroat lagi, yang disandarkan kepada :

· Qiroat Abu Ja’far

· Qiroat Ya’qub dan,

· Qiroat Khalaf Al-‘Asyir.

3. Qiroat arba’ ‘asyroh :

Adalah qiroat yang lalu ditambah dengan empat qiroat lagi, yang disandarkan kepada :

· Ibnu Muhaishin[7],

· Al-Yazidi,

· Hasan Al-Bashry[8] dan,

· Al-A’masy.

Dari tiga macam qiroat ini, qiroat sab’ahlah yang paling masyhur dan terkenal, menyusul qiroat ‘asyroh.


C. Faedah-faedah Keberagaman Qiroat

1. Menunjukkan betapa terjaganya dan terpeliharanya Kitab Allah SWT dari perubahan dan penyimpangan, padahal Kitab ini mempunyai sekian banyak segi bacaan yang berbeda-beda,

2 Meringankan umat Islam dan memudahkan mereka untuk membaca Al-Qur’an,

3 Merupakan keutamaan dan kemuliaan umat Muhammad saw atas umat-umat pendahulunya. Karena kitab-kitab yang dahulu turun hanya dengan satu segi dan dalam satu qiroah, berbeda dengan Al-Qur’an,

4 Membantu dalam bidang tafsir, dan

5 Meluruskan aqidah sebagian orang yang salah dalam penafsiran Al-Qur’an.


D. Syarat-syarat Sahnya Qiroat

Para ulama menetapkan tiga syarat sah dan diterimanya qiroat, yaitu :

1. Setiap qiroat yang sesuai dengan bahasa arab meskipun dari satu segi.

2. Sesuai dengan salah satu mashahif Utsmaniyah walaupun hanya kemungkinan.

3. Serta sanandnya shohih.

Itulah qiroat shohihah yang tidak boleh diingkari dan ditolak. Karena qiroat yang memenuhi tiga syarat ini termasuk dari ahruf sab’ah. Baik itu dari para imam qurro’ yang tujuh ataupun yang lainnya. Dan kapan qiroat itu tidak memenuhi salah satu rukun dari tiga rukun ini, berarti dia adalah qiroat yang lemah atau syadzdzah atau bathil.


E. Ahlu Qiroat

Para Ahli Qira’at menurut al-Zarqani adalah :

"Qira'at yang mutawatir semuanya dikutip dari para qorri’ yang hafal Al-Qur’an dan terkenal dengan hafalan serta ketelitiannya". Mereka ialah imam-imam qira'at yang masyhur yang meyampaikan qira'at sesuai dengan yang mereka terima dari sahabat Rasulullah saw. Mereka memiliki keutamaan ilmu dan pengajaran tentang Kitabullah Al-Qur’an sebagaimana sabda Rasulullah saw :

"Sebaik-baiknya orang diantara kalian adalah orang yang mempelajari Al-Qur’an dan mengajarkannya[9]".

1. Abu ‘Amr bin al-‘Alaa’, gurunya para perawi. Dia adalah Ziyad bin al-‘Alaa’ bin ‘Ammar al-Mazini al-Bashri rahimahullah. Ada yang mengatakan bahwa namanya adalah Yahya, ada lagi yang mengatakan bahwa namannya adalah kunyahnya (Kunyah: nama yang didahului dengan kata Abu atau Ibnu). Dia wafat di Kuffah pada tahun 154 H.

2. Ibnu Katsir (bukan Ibnu Katsir ahli tafsir), beliau adalah ‘Abdullah bin Katsir al-Makkiy, dia adalah salah seorang Tabi’in, dan wafat di Makkah tahun 120 H.

3. Nafi’ al-Madaniy rahimahullah, dia adalah Abu Ruwaim Nafi’ bin ‘Abdirrahman bin Abi Nu’aim al-Laitsiy, berasal dari Ashfahan, dan wafat di Madinah tahun 169 H

4. Ibnu ‘Amir asy-Syaami dia adalah ‘Abdullah bin ‘Amir al-Yahshubiy, seorang hakim di Dimasyq (Damaskus) pada masa kekhalifahan al-Walid bin ‘Abdil Malik. Dia diberi nama kunyah Abu ‘Imran, dan dia termasuk salah seorang Tabi’in. Dia wafat di Dimasyq tahun 118 H.

5. ‘Ashim al-Kuufiy dia adalah ‘Ashim bin Abi an-Najuud, ada yang menamainya Ibnu Bahdalah, Abu Bakr dan dia adalah salah seorang Tabi’in. Wafat di Kuffah tahun 128 H.

6. Hamzah al-Kuufiy dia adalah Hamzah bin Habib bin ‘Imarah az-Zayyat al-Faradhiy at-Taimiy, diberi nama kunyah Abu ‘Imarah. Dia wafat di Bahlawan pada masa kekhilafahan Abu Ja’far al-Manshur tahun 156 H.

7. al-Kisaa’i al-Kuufiy dia adalah ‘Ali bin Hamzah, Imam ahli Nahwu (tata bahasa Arab) kalangan Kufiyun, diberi nama kunyah Abul Hasan. Dinamakan al-Kissaa’i karena dia ihram memakai Kisaa’ (kain penutup Ka’bah). Dia wafat di Ranbawaih salah satu daerah di perkampungan ar-Ray, ketika hendak menuju ke Khurasan bersama ar-Rasyid tahun 189 H.

Adapun tiga imam Qiro’at sebagai pelengkap (yang menggenapkan) Qiro’at sepuluh adalah :

1. Abu Ja’far al-Madaniy, dia adalah Yazid bin al-Qa’qa’, wafat di Madinah pada tahun 128, dan ada yang mengatakan tahun 132 H.

2. Ya’qub al-Bashriy, dia adalah Abu Muhammad Ya’qub bin Ishaq bin Zaid al-Hadrami, wafat di Bashrah pada tahun 205 H, dan ada yang mengatakan tahun 185.

3. Khalaf, dia adalah Abu Muhammad Khalaf bin Hisyam bin Tsa’lab al-Bazzaar al-Baghdadiy, wafat tahun 229 H, dan ada yang mengatakan bahwa tahun kematiannya tidak diketahui.

Dan sebagian mereka (para ulama) menambahkan empat Qira’at lagi di samping kesepuluh Qira’at di atas, yaitu :

1. Qira’at al-Hasan al-Bashriy, mantan budak kaum Anshar, salah seorang Tabi’in senior yang terkenal dengan kezuhudannya. Dia wafat tahun 110 H.

2. Qira’at Muhammad bin ‘Abdirrahman yang dikenal dengan nama Ibnu Muhaishin wafat tahun 123 H. Dan dia adalah salah satu guru dari Abi ‘Amr.

3. Qira’at Yahya bin al-Mubarak al-Yazidi an-Nahwiy, dari Baghdad, dan ia mengambil (belajar Qiro’at) dari Abi ‘Amr dan Hamzah. Ia wafat tahun 202 H.

4. Qira’at Abil Farj Muhammad bin Ahmad asy-Syanbuudziy. Dia wafat tahun 388 H.





BAB III

KESIMPULAN

1. Qiroat adalah ilmu yang mempelajari tata cara menyampaikan atau membaca kalimat-kalimat Al-Qur’an dan perbedaan-pebedaan yang disandarkan kepada orang yang menukilnya.

2. Macam jenis Qiro’at terbagi dua, dari segi sanad dan dari segi jumlah.

  • · Dari segi sanad mencakup : mutawatir, masyhur, ahad, syadz, maudlu’, dan al-mudroj.

  • · Dari segi jumlah : qiroat enam, qiroat tujuh, qiroat delapan, qiroat sepuluh, qiroat sebelas, qiroat tiga belas dan qiroat empat belas. Akan tetapi yang terkenal ialah : qiroat sab’ah, qiroat ‘asyroh, dan qiroat arba’ ‘asyroh.

3. Faedah keberagaman Qiroat :

a. Meringankan umat Islam dan memudahkan mereka untuk membaca Al-Qur’an,

b. Merupakan keutamaan dan kemuliaan umat Muhammad saw atas umat-umat pendahulunya.

c. Menunjukkan betapa terjaganya dan terpeliharanya Kitab Allah SWT.

d. Membantu dalam bidang tafsir.

e. Meluruskan aqidah .


4. Syarat sah diterimanya suatu Qiroat :

a. Sesuai dengan bahasa arab meskipun dari satu segi.

b. Sesuai dengan salah satu mashahif Utsmaniyah walaupun hanya mendekati.

c. Benar (shohih) sanadnya.




DAFTAR PUSTAKA

Al Qathan, Manna’. 2008. Pengantar Study Ilmu Al-Qur’an. Jakarta: Pustaka Al Kautsar.

As-Shalih, Subhi, Dr. 1995. Membahas Ilmu-Ilmu Al Qur’an. Jakarta: Pustaka Firdaus.

Hasanuddin. 1995. Perbedaan Qiroat dan Pengaruhnya Terhadap Istinbath Hukum Al Qur’an. Jakarta: PT Raja Grafindo Persada.

Zulfidah A, Abduh. 1996. Al Qur’an dan Qiroat. Jakarta: Pustaka Al Kautsar.


 _______________________
[1] Lihat Al-Itqan. I/72-73

[2] Lihat Tarjamah-nya di dalam Thubaqatul-Qurra, I hal 443.

[3] Lihat Tarjamah-nya di dalam Thubaqatul-Qurra, II hal 330-334.

[4] Lihat Tarjamah-nya di dalam Thubaqatul-Qurra, I hal 443

[5] Lihat Tarjamah-nya di dalam Thubaqatul-Qurra, I hal 288-292.

[6] Lihat Tarjamah-nya di dalam Thubaqatul-Qurra, I hal 443

[7] Ibnu Muhaishan belajar kepada Mujahid dan Darbas. Kepadanya Abu ‘Amr berguru.

[8] Nama lengkapnya adalah al-Hasan bin Abilhasan Yassar al-Bashri, dari kalangan Anshar. Kemudian menjadi tokoh kenamaan kaum Tabi’in dan termasuk ulama Tabi’in yang terkenal kezuhudan hidupnya.

[9] HR.Bukhori
Poskan Komentar