Minggu, 17 Februari 2013

Bahasan Tentang TAFSIR, TAKWIL dan TERJEMAH


PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Saat Rosulullah saw masih hidup, para sahabat langsung menanyakan persoalan persoalan yang tidak jelas kepada rosul. Setelah wafatnya mereka harus melakukan ijtihat, khususnya orang orang yang memiliki kemampuan, seperti Ali bin Abi Tholib dan lainnya. Namun dalam ayat-ayat Al-Qur’an, tidak semua dapat dijangkau maksudnya secara pasti. Hal ini lah kemudian menimbulkan keaneragaman penafsiran, tidak terkecuali sahabat nabi yang secara umum menyaksikan sendiri turunya wahyu, mengetahui konteks nya, serta memahami secara alamiah struktur bahasa dan arti kosa katanya, tidak jarang berbeda pendapat atau bahkan keliru dalam memahami firman firman Allah yang mereka dengar atau mereka baca.

Dalam rangka penafsiran ayat-ayat Al-Qur’an dengan tujuan untuk memahami maksud redaksi tak jarang dilakukan penakwilan terhadap ayat-ayat yang tidak mampu di pahami dengan penafsiran. Dengan demikian, betapa pentingnya aspek penafsiran dan penakwilan ayat-ayat Al-Qur’an, lalu apa bedanya, batas kebebasan, pengertian tafsir dan takwil. Hal inilah yang akan kami bahas dalam makalah ini.

B. Rumusan masalah

1. Apakah yang dimaksud dengan tafsir, takwil dan terjemah ?

2. Apa perbedaan antara tafsir, takwil, dan terjemah ?

3. Apa saja syarat dan adab yang harus dimiliki seorang mufassir ?




Baca selengkapnya »»  

Pelayanan Anak Berkesulitan Belajar



Dalam rangka usaha mengatasi kesulitan belajar tidak bisa diabaikan dengan kegiatan mencari faktor-faktor yang diduga sebagai penyebabnya. Karena itu, mencari sumber-sumber penyebab utama dan sumber-sumber penyebab penyerta lainnya mutlak dilakukan secara akurat, efektif dan efisien.

A. Faktor Penyebab Kesulitan Belajar

Secara garis besar, faktor-faktor penyebab timbulnya kesulitan belajar terdiri atas dua macam, yaitu:

1. Faktor intern anak didik, yang meliputi gangguan atau kekurang mampuan psikofisik anak yakni:

a. Yang bersifat kognitif, yaitu rendahnya kapasitas intelektual.

b. Ranah afektif, yaitu labilnya emosi dan sikap.

c. Ranah psikomotor (ranah karsa) seperti terganggunya alat-alat indra penglihat dan pendengar.

2. Faktor ekstern anak didik;

a. Lingkungan keluarga (hubungan tidak harmonis).

b. Lingkungan masyarakat (lingkungan yang kumuh, teman yang nakal).

c. Lingkungan sekolah (dekat pasar, guru yang urang profesional, fasilitas dan lain-lain).

Selain faktor diatas, ada pula faktor khusus yang menimbulkan kesulitan belajar pada anak didik, yaitu sindrom psikologis berupa learning disability (ketidak mampuan belajar). Sindrom (syndrome) berarti satuan gejala yang muncul sebagai indikator adanya keabnormalan psikis yang menimbulkan kesulitan belajar anak didik. Sindrom itu misalnya:

1. Dyslexia, yaitu ketidak mampuan belajar membaca.

2. Dysgraphia, yaitu ketidak mampuan belajar menulis.

3. Dyscalculia, yaitu ketidak mampuan belajar matematika.

Anak didik yang memiliki sindrom-sindrom diatas secara umum sebenarnya memiliki IQ yang normal bahkan diantaranya ada yang memiliki kecerdasan di atas rata-rata. Oleh karenanya, kesulitan belajar anak didik yang menderita sindrom-sindrom tadi mungkin hanya disebabkan oleh adanya gangguan-gangguan ringan pada otak (minimal) brain dysfunction.

B. Usaha Mengatasi Kesulitan Belajar

Secara garis besar, langkah-langkah yang pelu ditempuh dalam rangka usaha mengatasi kesulitan belajar anak didik, dapat dilakukan melalui enam tahap, yaitu sebagai berikut :

1. Pengumpualan Data

Usaha yang dapat dilakukan dalam pengumpulan data bisa melalui kegiatan sebagai berikut :

a. Kunjungan rumah.

b. Case study.

c. Case history.

d. Daftar pribadi.

e. Meneliti pekerjaan anak.

f. Meneliti tugas kelompok.

g. Melakukan tes, baik tes IQ maupun tes prestasi.

Dalam pelaksanaannya, semua meyode ini tidak mesti digunakan bersama-sama, tetapi tergantung pada masalahnya, kompleks atau tidak. Semakin rumit masalahnya, maka semakin banyak kemungkinan metode yang dapat digunakan.

2. Pengolahan Data

Data yang telah terkumpul tidak akan ada artinya jika tidak diolah secara cermat. Faktor-faktor penyebab kesulitan belajar anak didik jelas tidak dapat diketahui, karena data yang terkumpul itu masih mentah, belum dianalisis dengan seksama. Langkah-langkah yang dapat ditempuh dalam rangka pengolahan data adalah sebagai berikut :

a. Identifikasi kasus.

b. Membandingkan antarkasus.

c. Membandingkan dengan hasil tes.

d. Menarik kesimpulan.

3. Diagnosis

Adalah keputusan (penentuan) mengenai hasil dari pengolahan data. Diagnosis dapat berupa hal-hal sebagai berikut:

a. Keputusan mengenai jenis kesulitan belajar anak didik yaitu berat dan ringannya tingkat kesulitan yng dirasakan anak didik.

b. Kepuusan mengenai faktor-faktor yang ikut menjadi sumber penyebab kesulitan belajar anak didik.

c. Keputusan menganai faktor utama yang menjadi sumber penyebab kesulitan belajar anak didik.

4. Prognosis

Keputusan yang diambil berdasarkan hasil diagnosis menjadi dasar pijakan dalam kegiatan progsis. Dalam prognosis dilakukan kegiatan penyusunan program dan penetapan ramalan mengenai bantuan yang harus diberikan kepada anak utuk membantunya keluar dari kesulitan belajar.

Dalam penyusunan program bantuan terhadap anak didik yang berkesulitan belajar dapat diajukan pertanyaan-pertanyaan dengan menggunakan rumus 5W + 1H.

5. Treatment

Adalah perlakuan. Perlakuan disini dimaksudkan adalah pemberian bantuan kepada anak didik yang mengalami kesulitan belajar sesuai dengan program yang telah disusun pada tahap prognosis. Bentuk treatment yang mungkin dapat diberikan adalah:

a. Melalui bimbingan belajar individual.

b. Melalui bimbingan belajar kelompok.

c. Melalui remidial teaching untuk mata pelajaran tertentu.

d. Melalui bimbingan orang tua di rumah.

e. Pemberian bimbingan pribadi untuk mengatasi masalah-masalah psikologis.

f. Pemberian bimbingan mengenai cara belajar yang baik secara umum.

g. Pemberian bimbingan mengenai cara belajar yang baik sesuai dengan karakteristik setiap mata pelajaran.

6. Evaluasi

Evaluasi disini dimaksudkan untuk mengetahui apakah treatment yang telah diberikan berhasil dengn baik. Artinya ada kemajuan, yaitu anak dapat dibantu keluar dari lingkaran masalah kesulitan belajar atau gagal sama sekali. Kemungkinan gagal atau berhasil treatment yang telah diberikan kepada anak, dapat diketahui sampai sejauh mana kebenaran jawaban anak terhadap item-item soal yang diberikan dalam jumlah tertentu dan dalam materi tertentu melalui ala evaluasi berupa tes prestasi belajar atau achievement test. Bila jawaban anak sebagian besar banyak yang salah, itu sebagai pertanda bahwa treatment gagal. Karenanya, perlu pengecekan kembali degan cara mencari faktor-faktor penyebab dari kegagalan itu. Ada kemungkinan data yang terkumpul kurang lengkap, progam yang disusun tidak jelas dan tepat, atau diagnosis yang diambil tidak akurat karena kesalahan membaca data, sehingga berdampak langsung pada treatment yang bias.

Agar tidak terjadi kesalahan pengertian, disini perlu ditegaskan bahwa pengecekan kembali hanya dilakukan bila terjadi dikegagalan treatment berdasarkan evaluasi, dimana hasil prestasi belajar anak didik masih rendah, di bawah standar. Dalam rangka pengecekan kembali atas kegagalan treatment, secara teoritis langkah-langkah yang perlu ditempuh adalah sebagai berikut:

a. Re-ceking data (baik yang berhubungan dengan masalah pengumpulan maupun pengolahan data).

b. Re-diagnosis.

c. Re-prognosis.

d. Re-treatment.

e. Re-evaluasi.

Bila treatment gagal harus diulang. Kegagalan treatmen kedua harus diulangi dengan treatment berikutnya. Begitulah seterusnya sampai benar-benar dapat mengeluarkan anak didik dari kesulitan belajar. Tetapi bila gagal dan selalu adalah kebodohan, itu jangan sampai terjadi. Sebab satu masalah belum selesai, maka masalah lain masih menunggu untuk ditangani.


Daftar Pustaka

Dalyono, M. 1997. Psikologi Pendidikan. Jakarta: Rineka Cipta

Denim, Sudarwan. Khairil. 2011. Psikologi Pendidikan. Bandung: CV Alfabebeta

Djamarah, Syaiful Bahri. 2008. Psikologi Belajar. Jakarta: Rineka Cipta

Rahmah, Noer. 2012. Psikologi Pendidikan. Yogyakarta: Teras Sleman Yogya

Syah, Muhibbin. 2006. Psikologi Pendidikan dengan Pendekatan Baru. Bandung: PT Remaja Rosdakarya

Baca selengkapnya »»  

Minggu, 27 Januari 2013

MODEL PENGEMBANGAN SISTEM INSTRUKSIONAL.


Model KEMP[1]

Terdiri dari 8 langkah :

1. Menentukan tujuan instruksional umum, yaitu tujuan yang ingin dicapai dalam mengajarkan masing-masing pokok bahasan.

2. Membuat analisis tentang karakteristik siswa.

3. Menentukan tujuan instruksional secara spesifik, operasional, dan terukur.

4. Menentukan materi atau bahan pelajaran sesuai dengan tujuan instruksional khusus.

5. Menetapkan penjajagan awal.

6. Menentukan strategi belajar mengajar yang sesuai kriteria umum untuk pemilihan strategi belajar mengajar yang sesuai dengan tujuan instruksional khusus adalah efesien, keefektifan, ekonomis, kepraktisan.

7. Mengkoordinasi sarana penunjang yang diperlukan meliputi biaya, fasilitas, peralatan, waktu dan tenaga.

8. Mengadakan evaluasi.

Model H. Banathy[2]

Terdiri dari 6 langkah :

1. Merumuskan tujuan (formulate objctives).

2. Mengembangkan tes (develop test).

3. Menganalisis kegiatan belajar (analyze learning task).

4. Mendesain sistem instruksional (design system).

5. Melaksanakan kegiatan dan mengetes hasil.

6. Mengadakan perbaikan (change to improve).

Model PPSI[3]

Terdiri dari 5 langkah :

1. Merumuskan tujuan instruksional khusus.

2. Menyusun alat evaluasi.

3. Menetukan kegiatan belajar dan materi pelajaran.

4. Merencanakan program kegiatan.

5. Melaksanakan program. Langkah yang perlu dilakukan dalam fase ini adalah :

a) mengadakan tes awal.

b) menyampaikan materi pelajaran.

c) mengadakan evaluasi tes akhir.

Model Dick and Carrey[4]

Terdiri dari 10 langkah :

1. Mengidentifikasi tujuan umum pengajaran.

2. Mengadakan analisis pembelajaran.

3. Mengidentifikasi tingkah laku masukan dan karakteristik mahasiswa.

4. Merumuskan tujuan performansi.

5. Mengembangkan butir-butir tes acuan patokan.

6. Mengembangkan strategi pembelajaran.

7. Mengembangkan dan memilih materi pembelajaran.

8. Mendesain dan melaksanakan evaluasi formatif.

9. Merevisi bahan pembelajaran.

10. Mendesain dan melaksanakan evaluasi sumatif.

Model Gerlach and Ely[5]

Terdiri dari 10 langkah :

1. Spesifikasi isi pokok bahasan.

2. Spesifikasi tujuan pembelajaran.

3. Pengumpulan dan penyaringan data tentang siswa.

4. Penentuan cara pendekatan, metode dan teknik mengajar.

5. Pengelompokan siswa.

6. Penyediaan waktu.

7. Pengaturan ruangan.

8. Pemilihan media atau sumber belajar.

9. Evaluasi.

10. Analisis umpan balik.

Model Ropes (review, overview, presentation, exercise, summary).

Terdiri dari 5 langkah :

1. Review, kegiatan ini dilakukan dalam waktu 1-5 menit.

2. Overview, kegiatan ini dilakukan dalam waktu 2-5 menit.

3. Presentation, tahap ini merupakan inti dari proses pembelajaran.

4. Exercise, yaitu suatu proses untuk memberikan kesempatan pada siswa mempraktekkan apa yang telah mereka pahami.

5. Summary, untuk memperkuat apa yang lebih mereka pahami dalam proses pembelajaran.


DAFTAR PUSTAKA

Mudhoffir, Drs. 1996. Teknologi Instruksional. Bandung: PT Remaja Rosdakarya

Hamzah B, Dr. 2008. Perencanaan Pembelajaran. Jakarta: PT Bumi Aksara

Rusman, Dr. 2009. Manajemen Kurikulum. Jakarta: PT Raja Grafindo Persada

[1] Teknologi Instruksional, Drs. Mudhoffir.1996. hal 37-43.

[2] Idem.

[3] Idem.

[4] Perencanaan Pembelajaran, Dr. Hamzah B. 2008. hal 23-33.

[5] Manajemen Kurikulum, Dr Rusman. 2009. hal 237.

Baca selengkapnya »»  

Rabu, 05 Desember 2012

Seputar Masalah Zakat


PEMBAHASAN

A. Pengertian

Menurut bahasa ialah tumbuh, suci dan berkah. Firman Allah swt :



“Pungutlah zakat dari hartabenda mereka, yang akan membersihkan dan mensucikan mereka.” (Q.S At-Taubah: 103).

Sedangkan menurut istilah adalah nama atau sebutan dari sesuatu hak Allah swt yang dikeluaran seseorang kepada fakir misin. Dinamakan zakat, karena di dalamnya terkandung harapan untuk beroleh berkat, membersihkan jiwa dan memupuknya dengan berbagai kebajikan.[1]



B. Sejarah Pensyariatan

Pada peringkat permulaan Islam, zakat diwajibkan di Mekah. Hal ini banyak diterangkan di dalam nas Al-Quran yang turun dalam period Mekah. Namun kewajipan tersebut diperintahkan secara umum dengan tidak diperincikan jenis-jenis zakat, apakah harta yang diwajibkan zakat serta kadar yang wajib dikeluarkan. Persoalan ini diserahkan kepada budi bicara dan timbang rasa masyarakat Islam di Mekah pada masa itu. Jika mereka seorang yang kaya, berharta dan ingin berzakat, mereka boleh mengeluarkan apa saja dengan kadar yang mereka mau berikan.

Setelah penghijrahan Baginda SAW ke Madinah, umat Islam semakin kuat dan negara Islam mula dibentuk. Pada tahun kedua hijrah, zakat disyariatkan dalam bentuk yang lengkap sempurna dengan penerangan tentang harta yang dikenakan zakat, kadar yang wajib dikeluarkan, golongan yang berhak menerimanya dan segala hukum-hakam yang berkaitan.[2]

C. Syarat-syarat Zakat

Ada beberapa syarat yang harus dipenuhi dalam masalah kewajiban zakat. Syarat tersebut berkaitan dengan muzakki (orang yang mengeluarkan zakat) dan berkaitan dengan maal (harta).[3]

i. Berkaitan dengan muzakki :

1. Islam. Rasulullah bersabda:



Berkata Abu Bakar Ash-Shiddiq (kepada penduduk Bahrain) : “Inilah sedekah yang diwajibkan Rasulullah saw atas orang-orang Muslim.”[4]

2. Merdeka. Rasulullah bersabda:



“Orang Muslim tidak wajib zakat atas budak/hamba dan kudanya.”[5]

Adapun anak kecil dan orang gila, jika memiliki harta dan memenuhi syarat-syaratnya, masih tetap dikenai zakat yang nanti akan dikeluarkan oleh walinya. Pendapat ini adalah pendapat terkuat dan dipilih oleh mayoritas ulama.

ii. Berkaitan dengan harta yang dikeluarkan :

1. Harta tersebut dimiliki secara sempurna.

Adalah harta tersebut adalah milik di tangan individu dan tidak berkaitan dengan hak orang lain, atau harta tersebut disalurkan atas pilihannya sendiri dan faedah dari harta tersebut dapat ia peroleh.

2. Harta tersebut adalah harta yang berkembang.

Yang dimaksudkan di sini adalah harta tersebut mendatangkan keuntungan dan manfaat bagi si empunya atau harta itu sendiri berkembang dengan sendirinya. Oleh karena itu, para ulama membagi harta yang berkembang menjadi dua macam:

a. Harta yang berkembang secara hakiki (kuantitas), seperti harta perdagangan dan hewan ternak hasil perkembangbiakan.

b. Harta yang berkembang secara takdiri (kualitas).



3. Harta tersebut telah mencapai nishob.

Nishob adalah ukuran minimal suatu harta dikenai zakat. Untuk masing-masing harta yang dikenai zakat, ada ketentuan nishob masing-masing.

4. Telah mencapai haul (harta tersebut bertahan selama setahun).

Artinya harta yang dikenai zakat telah mencapai masa satu tahun atau 12 bulan Hijriyah. Rasulullah bersabda:



“Tidaklah ada (wajib) zakat pada harta seseorang sebelum sampai satu tahun dimilikinya.”[6]

Syarat ini berlaku bagi zakat pada mata uang dan hewan ternak. Sedangkan untuk zakat hasil pertanian tidak ada syarat haul. Zakat pertanian dikeluarkan setiap kali panen.

5. Harta tersebut merupakan kelebihan dari kebutuhan pokok.



D. Zakat Maal (Harta)

Adalah zakat yang dikenakan atas harta (Maal) yang dimiliki oleh individu atau lembaga dengan syarat-syarat dan ketentuan-ketentuan yang telah ditetapkan secara hukum (syara’).[7]

Macam-macam zakat maal dibedakan atas obyek zakatnya antara lain:[8]

1. Hewan ternak. Meliputi semua jenis dan ukuran ternak.

2. Hasil pertanian. Allah SWT berfirman:



“Hai orang-orang beriman! Nafkahkanlah sebagian dari hasil tanaman usahamu yang baik-baik, begitupun sebagian dari apa yang Kami keluarkan untukmu dari perut bumi.” (Q.S Al-Baqarah: 267).

Hasil pertanian yang dimaksud adalah hasil tanaman dan buah-buhan.

3. Emas dan Perak.[9] Meliputi harta yang terbuat dari emas dan perak dalam bentuk apapun.

4. Harta Perniagaan. Rasulullah bersabada:



“'Hendaklah engkau periksa setiap kaum muslimin yang lewat, lalu ambillah (zakat) dari barang yang akan mereka perdagangkan.”[10]

Harta perniagaan adalah semua yang diperuntukkan untuk diperjual-belikan dalam berbagai jenisnya, baik berupa barang seperti alat-alat, pakaian, makanan, perhiasan, dll. Perniagaan disini termasuk yang diusahakan secara perorangan maupun kelompok/korporasi.

5. Hasil Tambang (Ma'din).

“Bahwa Rasulullah saw menetapkan barang tambang Al Qabiliyyah untuk Bilal bin Al Harits Al Muzani, yakni tempat yang berada di tepi pantai, dan hingga hari ini barang tambang tersebut tidak diambil kecuali untuk zakat.”[11]



Meliputi hasil dari proses penambangan benda-benda yang terdapat dalam perut bumi/laut dan memiliki nilai ekonomis seperti minyak, logam, batu bara, mutiara dll.

6. Barang Temuan (Rikaz). Rasulullah bersabda:



"Zakat pada barang temuan (harta karun) adalah seperlima."[12]

Yakni harta yang ditemukan dan tidak diketahui pemiliknya (harta karun).

E. Zakat Fitrah

Ialah zakat yang waji disebabkan berbuka dari puasa Ramadhan, serta hukumnya wajib atas setiap diri Muslimin, baik kecil atau dewasa, laki-laki atau perempuan, hamba atau merdeka. Rasulullah bersabda:

Ibnu Umar r.a berkata, “Rasulullah saw mewajibkan zakat fitrah satu sha’[13] kurma atau satu sukat padi atas semua orang Muslim, hamba sahaya, orang merdeka, laki-laki, perempuan, kecil dan dewasa, dan Beliau memerintahkan agar zakat itu diberikan sebelum orang-orang keluar melakukan shalat.”[14]

Kata fitrah yang ada merujuk pada keadaan manusia saat baru diciptakan sehingga dengan mengeluarkan zakat ini manusia dengan izin Allah akan kembali fitrah.



DAFTAR PUSTAKA

Sabiq, Sayyid. 1982. Fikih Sunnah 3. Bandung: PT Al-Ma’arif

Al-Asqalani, Al-Hafizh Ibnu Hajar. 2000. Terjemahan Bulughul Maram. Jakarta: Pustaka Amani

Rasjid, Sulaiman. 1955. Fiqh Islam. Jakarta: At-Tahirijah

Basmeh, Abdullah Muhammad. 1995. Mastika Hadis Rasulullah. Jakarta: PT Al-Ma’arif


[1] Lihat Fikih Sunnah(3/5)

[2] Lihat Mastika Hadis Rasulullah(3/151).

[3] Lihat Fiqh Islam.

[4] HR. Bukhari.

[5] HR. Bukhari. Dan menurut riwayat Muslim disebutkan, “tidak wajib zakat kepada hamba kecuali zakat fitrah.”

[6] HR. Daruquthni. Dari Ibnu Umar r.a.

[7] Lihat Fiqh Islam.

[8] Lihat Fikih Sunnah(3/29).

[9] Dalil lihat Qur’an Surat At-Taubah ayat 34-35.

[10] HR. Imam Malik di dalam Kitabnya Al-Muwatha’.

[11] Idem.

[12] Idem.

[13] Satu sha’ = 4 mud (kira-kira 3 1/3 liter).

[14] Mutafaqqun ‘Alaih. Lihat Bulughul Maram. Hadist ke-647, menunjukkan bahwa:

a. Zakat fitrah satu sha’ dari bahan makanan pokok.

b. Zakat fitrah diwajibkan bagi seluruh umat Islam.

c. Zakat fitrah harus dikeluarkan sebelum menunaikan shalat Idul Fitri.
Baca selengkapnya »»  

Selasa, 30 Oktober 2012

Definisi Shalat, Macam-macamnya serta Rukun dan Syarat Sahnya

BAB I
PENDAHULUAN
Shalat merupakan sebuah kewajiban bagi setiap muslim. Kewajiban ini banyak dilalaikan oleh orang-orang Islam pada hari ini sehingga terkadang kita tersenyum heran saat melihat ada sebagian diantara mereka yang shalat seperti anak-anak kecil, tak karuan dan asal-asalan. Semua ini terjadi karena kejahilan tentang agama, taqlid buta kepada orang, dan kurangnya semangat dalam mempelajari Al-Qur’an dan Sunnah Nabi saw.
Banyak diantara kita lebih bersemangat mempelajari dan mengkaji masalah dunia, bahkan ahli dan pakar di dalamnya. Tiba giliran mempelajari agama, dan mengkajinya, banyak diantara kita malas dan menjauh, sebab tak ada keuntungan duniawinya. Bahkan terkadang menuduh orang yang belajar agama sebagai orang kolot, dan terbelakang. Ini tentunya adalah cara pandang yang keliru.
Makalah ini membahas seputar pengertian shalat, sejarah pensyariatan shalat, macam-macam shalat, syarat serta rukun shalat disertai dalil-dalil keterangan bersumberkan Kitab Suci Al-Qur’an dan Sunnah Nabi saw. Semoga makalah ini bermanfaat untuk para pembaca.
Baca selengkapnya »»  

Senin, 29 Oktober 2012

Sains dan Al-Qur'an

BAB I

PENDAHULUAN

Al-Qur’an adalah Kalamullah SWT. Didalam Al-Qur’an banyak sekali peristiwa-peristiwa yang menceritakan tentang zaman terdahulu, orang-orang terdahulu, bahkan peristiwa yang mana orang-orang baru mengetahuinya sekarang.

Makalah ini disajikan kepada para pembaca, dengan memohon kepada Allah swt kiranya bermanfaat, mengulas sedikit tentang bagaimana Allah menciptakan hujan dari langit yang mana banyak orang-orang yang tidak memikirkannya.



BAB II

PEMBAHASAN

A. Tentang proses penciptaan hujan dan salju.

“Tidaklah kamu melihat bahwa Allah mengarak awan, kemudian mengumpulkan antara (bagian-bagian)nya, kemudian menjadikannya bertindih-tindih, Maka kelihatanlah olehmu hujan keluar dari celah-celahnya dan Allah (juga) menurunkan (butiran-butiran) es dari langit, (yaitu) dari (gumpalan-gumpalan awan seperti) gunung-gunung, Maka ditimpakan-Nya (butiran-butiran) es itu kepada siapa yang dikehendaki-Nya dan dipalingkan-Nya dari siapa yang dikehendaki-Nya. Kilauan kilat awan itu Hampir-hampir menghilangkan penglihatan.” (Q.S An-Nur: 43).

C. Asbab An-Nuzul

Tidak semua ayat di dalam Al-Qur’an mempunyai asbabun nuzul (sebab-sebab di turunkanya ayat). Hanya sebagian ayat saja.[1]

D. Tafsir Ayat

{Tidaklah kamu melihat bahwa Allah mengarak awan} menggiringnya secara lembut {kemudian mengumpulkan antara bagian-bagiannya} dengan menghimpun sebagiannya dengan sebagian yang lain, sehingga yang tadinya tersebar kini menjadi satu kumpulan {kemudian menjadikannya bertindih-tindih} yakni sebagiannya di atas sebagian yang lain {maka kelihatanlah olehmu air} hujan {keluar dari celah-celahnya} yakni melalui celah-celahnya {dan Allah juga menurunkan dari langit}. Huruf Min (من) yang kedua ini berfungsi menjadi Shilah atau kata penghubung {yakni dari gunung-gunung yang menjulang padanya} menjulang ke langit; Min Jibaalin (من جبال) menjadi Badal daripada lafal Minas Samaa-i (من السمآء)dengan mengulangi huruf Jarrnya (berupa es) sebagiannya terdiri dari es {maka ditimpakannya es tersebut kepada siapa yang dikehendaki-Nya dan dipalingkan-Nya dari siapa yang dikehendaki-Nya. Hampir-hampir} hampir saja {kilauan kilat awan itu} yakni cahayanya yang berkilauan {menghilangkan penglihatan} mata yang memandangnya, karena silau olehnya.

Pada ayat ini Allah mengarahkan pula perhatian Nabi saw dan manusia agar merenungkan bagaimana Dia (Allah) menghalau awan dengan kekuasaan-Nya dari suatu tempat ke tempat yang lain kemudian mengumpulkan awan-awan yang berarak itu pada suatu daerah, sehingga terjadilah tumpukan awan yang berat berwarna hitam, seakan-akan awan itu gunung-gunung besar yang berjalan di angkasa. Dengan demikian turunlah hujan lebat di daerah itu dun kadang-kadang hujan itu bercampur dengan es. Bagi kita di bumi ini jarang sekali melihat awan tebal yang berarak seperti gunung-gunung, tetapi bila kita naik kapal udara akan terlihatlah di bawah awan-awan yang bergerak pelan-pelan itu memang seperti gunung-gunung yang menjulang di sana sini dan bila awan itu menurunkan hujan nampak pula dengan jelas sebagaimana air itu turun ke bumi. Dengan hujun lebat itu kadang-kadang manusia di bumi mendapat rahmat dan keuntungan yang besar, karena sawah dan ladang yang sudah kering akibat musim kemarau, menjadi subur kembali dun tumbuhlah berbagai macam tanaman dengan suburnya sehingga manusia dapat memetik hasilnya dengan senang dan gembira.

Tetapi ada pula hujan yang lebat dan terus menerus turunnya dan menyebabkan terjadinya banjir di mana-mana sehingga terendamlah sawah ladang itu bahkan terendamlah suatu kampung seluruhnya, maka hujan lebat itu menjadi malapetaka bagi orang yang ditimpanya bukan sebagai rahmat yang menguntungkan. Semua itu terjadi adalah menurut iradah dan kehendak-Nya, dan sampai sekarang belum ada suatu ilmupun yang dapat mengatur perkisaran angin dan perjalanan awan sehingga tidak akan terjadi banjir dan malapetaka itu. Di mana-mana terjadi topan dan hujan lebat yang membahayakan tetapi para ahli ilmu pengetahuan tetap mengangkat bahu karena tidak dapat mengatasinya. Semua ini menunjukkan kekuasaan Allah, ditimpakan rahmat dan nikmat kepada siapa yang dikehendaki-Nya, dan ditimpakan-Nya musibah dan malapetaka kepada siapa yang dikehendaki-Nya.

Di antara keanehan alam yang dapat dilihat manusia ialah terjadinya kilat yang sambung-bersambung di waktu langit mendung dan dekat dengan turunnya hujan, kejadiannya guruh dan petir yang dahsyat dan bergemuruh. Meskipun ahli ilmu pengetahuan dapat menganalisa sebab musababnya kejadian itu, tetapi mereka tidak dapat menguasai dan mengendalikannya. Bukahkah ini suatu bukti pula bagi kekuasaan Allah ‘Azza wa Jalla.

E. Korelasi Teks

Proses terbentuknya hujan masih merupakan misteri besar bagi orang-orang dalam waktu yang lama. Baru setelah radar cuaca ditemukan, bisa didapatkan tahap-tahap pembentukan hujan.

Pembentukan hujan berlangsung dalam tiga tahap. Pertama, "bahan baku" hujan naik ke udara, lalu awan terbentuk. Akhirnya, curahan hujan terlihat.

Tahap-tahap ini ditetapkan dengan jelas dalam Al-Qur’an berabad-abad yang lalu, yang memberikan informasi yang tepat mengenai pembentukan hujan.

Kini, mari kita amati tiga tahap yang disebutkan dalam ayat ini.

Tahap ke-1 : "...Tidaklah kamu melihat bahwa Allah mengarak awan…"

Gelembung-gelembung udara yang jumlahnya tak terhitung yang dibentuk dengan pembuihan di lautan, pecah terus-menerus dan menyebabkan partikel-partikel air tersembur menuju langit. Partikel-partikel ini, yang kaya akan garam, lalu diangkut oleh angin dan bergerak ke atas di atmosfir. Partikel-partikel ini, yang disebut aerosol, membentuk awan dengan mengumpulkan uap air di sekelilingnya, yang naik lagi dari laut, sebagai titik-titik kecil dengan mekanisme yang disebut "perangkap air".

Tahap ke-2 : “...kemudian mengumpulkan antara (bagian-bagian)nya, kemudian menjadikannya bertindih-tindih..."

Awan-awan terbentuk dari uap air yang mengembun di sekeliling butir-butir garam atau partikel-partikel debu di udara. Karena air hujan dalam hal ini sangat kecil (dengan diamter antara 0,01 dan 0,02 mm), awan-awan itu bergantungan di udara dan terbentang di langit. Jadi, langit ditutupi dengan awan-awan.

Tahap ke-3 : "…Maka kelihatanlah olehmu hujan keluar dari celah-celahnya dan Allah (juga) menurunkan (butiran-butiran) es dari langit…"

Partikel-partikel air yang mengelilingi butir-butir garam dan partikel -partikel debu itu mengental dan membentuk air hujan. Jadi, air hujan ini, yang menjadi lebih berat daripada udara, bertolak dari awan dan mulai jatuh ke tanah sebagai hujan.

F. Penjelasan

Semua tahap pembentukan hujan telah diceritakan dalam ayat-ayat Al-Qur’an. Selain itu, tahap-tahap ini dijelaskan dengan urutan yang benar. Sebagaimana fenomena-fenomena alam lain di bumi, lagi-lagi Al-Qur’anlah yang menyediakan penjelasan yang paling benar mengenai fenomena ini dan juga telah mengumumkan fakta-fakta ini kepada orang-orang pada ribuan tahun sebelum ditemukan oleh ilmu pengetahuan.

Para ilmuwan yang mempelajari jenis-jenis awan mendapatkan temuan yang mengejutkan berkenaan dengan proses pembentukan awan hujan. Terbentuknya awan hujan yang mengambil bentuk tertentu, terjadi melalui sistem dan tahapan tertentu pula. Tahap-tahap pembentukan kumulonimbus (sejenis awan hujan) adalah sebagai berikut:

Ø Pergerakan awan oleh angin:

Awan-awan dibawa, dengan kata lain, ditiup oleh angin.

Ø Pembentukan awan yang lebih besar:

Kemudian awan-awan kecil (awan kumulus) yang digerakkan angin, saling bergabung dan membentuk awan yang lebih besar.

Ø Pembentukan awan yang bertumpang tindih:

Ketika awan-awan kecil saling bertemu dan bergabung membentuk awan yang lebih besar, gerakan udara vertikal ke atas terjadi di dalamnya meningkat. Gerakan udara vertikal ini lebih kuat di bagian tengah dibandingkan di bagian tepinya. Gerakan udara ini menyebabkan gumpalan awan tumbuh membesar secara vertikal, sehingga menyebabkan awan saling bertindih-tindih. Membesarnya awan secara vertikal ini menyebabkan gumpalan besar awan tersebut mencapai wilayah-wilayah atmosfir yang bersuhu lebih dingin, di mana butiran-butiran air dan es mulai terbentuk dan tumbuh semakin membesar. Ketika butiran air dan es ini telah menjadi berat sehingga tak lagi mampu ditopang oleh hembusan angin vertikal, mereka mulai lepas dari awan dan jatuh ke bawah sebagai hujan air, hujan es, dsb.

Kita harus ingat bahwa para ahli meteorologi hanya baru-baru ini saja mengetahui proses pembentukan awan hujan ini secara rinci, beserta bentuk dan fungsinya, dengan menggunakan peralatan mutakhir seperti pesawat terbang, satelit, komputer, dsb. Sungguh jelas bahwa Allah telah memberitahu kita suatu informasi yang tak mungkin dapat diketahui 1400 tahun yang lalu.


REFERENSI

Imam Jaluluddin Suyuthi & Jalaluddin Mahalli. Tafsir Jalalain. Pustaka Elba

Kementerian Agama RI. 2010. Al-Qur’an dan Tafsirnya. Jakarta: Darus Sunah

Mahir Ahmad Ash-Shufi. 2006. Kemukjizatan Penciptaan Bumi. Bandung: PT Remaja Rosdakarya

Muhammad Thalib. 2008. Tarjamah Tafsiriyah Al-Qur’anul Karim. Bandung: PT Syamil Cipta Media

 ___________________________
[1] Lihat Kitab Lubabun Nuqul fii Asbaab Annuzul, Karya As-Suyuthi
Baca selengkapnya »»  

Lanjutan Puasa (Hikmah serta Filosofi Puasa)

BAB I
PENDAHULUAN

 Dengan nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang.

Segala puji bagi Allah Rabb semesta alam, shalawat dan salam selalu tercurahkan kepada Nabi Muhammad saw, juga atas segenap keluarga dan semua orang yang mengikuti petunjuknya.

Makalah ini disajikan kepada para pembaca, dengan memohon kepada Allah swt kiranya bermanfaat, mengulas sedikit tentang Lanjutan Puasa yang mencakup Puasa Sunnah, Puasa Haram, Hal-hal yang Membatalkan puasa, Hikmah puasa serta Filosofi Puasa.


BAB II
PEMBAHASAN

A. Puasa

1. Puasa Sunnah[1]

a. Hari Arafah bagi selain orang yang berhaji, yaitu pda tanggal 9 Dzulhijah. Nabi bersabda:

“Puasa hari Arafah itu menghapus dosa-dosa dua tahun setahun yang silam dan setahun yang akan datang. Dan puasa hari Asyura’ itu mengahpus dosa sebelumnya.” (HR. Muslim).

b. Puasa Tasu’a dan puasa Asyura’, yaitu tanggal 9 dan 10 bulan Muharram. Sebagaimana Nabi berpuasa pada hari Asyura’ dan memerintahkannya, beliau bersabda:

“Jika sampai tahun depan Insya Allah kita puasa Tasu’a.”

c. Puasa enam hari di bulan Syawwal. Rasulullah bersabda:

“Barangsiapa berpuasa di bulan Ramadhan dan meneruskannya enam hari di bulan Syawwal, maka ia seperti berpuasa sepanjang tahun”. ( HR. Muslim).

d. Puasa pada paruh pertama bulan Sya’ban. ‘Aisyah r.a berkata: “aku tidak pernah melihat Rasulullah saw berpuasa sebulan penuh kecuali di bulan ramadhan dan aku tidak pernah melihat beliau lebih banyak berpuasa kecuali di bulan Sya’ban.” (HR. Muslim).

e. Puasa sepuluh pertama bulan Dzulhijah. Rasulullah bersabda:

“Tidak ada hari-hari dimana amal shalih di dalamnya lebih dicintai Allah dari pada hari-hari ini –sepuluh pertama bulan Dzulhijah-. “para sahabat berkata: “Wahai Rasulullah, tidak pula jihad di jalan Allah?” Rasulullah bersabda: “Tidak pula jihad di jala Allah melainkan seseorang keluar dari dirinya dan hartanya, kemudian tidak ada sedikitpun dari padanya yang kembali.” (Mutafaqqun ‘Alaih).

f. Puasa bulan Muharram. Nabi ditanya sahabat tentang puasa apa yang lebih baik setelah bulan ramadhan. Nabi bersabda:

“Bulan Allah yang kalian namakan Muharram.” (HR. Bukhari).

g. Puasa hari-hari putih dalam setiap bulan, yaitu tanggal 13, 14, 15 setiap bulan Hijriyah. Rasulullah bersabda:

“Puasa hari-hari tersebut (hari putih) seperti berpuasa sepanjang tahun.” (HR. Nasa’i dan Ibnu Hibban men-shahih-kan ini).

h. Puasa hari Senin dan Kamis. Rasulullah bersabda:

“Sesungguhnya amal perbuatan diperlihatkan pada setiap hari Senindan Kamis, kemudian Allah mengampuni setiap orang Muslim atau Mukmin kecuali dua yang saling mendiamkan. Allah berfirman : “Tundalah pengampunan terhadap keduanya.” (HR. Ahmad dan sanad hadist ini hasan).

i. Puasa sehari dan tidak puasa sehari. Rasulullah bersabda:

“Puasa yang paling dicintai Allah ialah puasa Daud…” (Mutafaqqun ‘Alaih).

j. Puasa bagi bujangan yang belum mampu menikah. Nabi bersabda:

“…barangsiapa yang tidak mampu menikah, hendaklah ia berpuasa, karena berpuasa adalah wija’ (mengendurkan gejolak syahwat) baginya.” (HR. Bukhari).

2. Puasa Haram

a. Puasa dua hari raya (idul fitri dan idul adha). “Dua hari yang dilarang Rasulullah untuk berpuasa yaitu hari kalian berbuka dari puasa kalian, dan hari dimana kalian memakan hewan kurban kalian.” (HR. Muslim).

b. Puasa pada hari Tasyriq, yaitu tiga hari berturut-turut setelah hari raya adha. Rasululah bersabda:

“Janganlah kalian berpuasa pada hari ini, karena ia merupakan hari makan-minum dan mengingat Allah ‘Azza wa Jalla “ (HR. Ahmad dengan isnad hasan).[2]

c. Puasa ketika menjalani haid dan nifas bagi wanita, karena ijma’ ulama menegaskan tentang hal ini. Rasulullah bersabda:

“Bukankah jika wanita menjalani haid itu tidak shalat dan tidak puasa.? Itulah bentuk kekurangan dalam agamanya.” (HR. Bukhari).

d. Puasa orang yang sakit dikhawatirkan meninggal dunia karena puasanya.[3] Allah swt berfirman:

“Dan janganlah kalian membunuh diri kalian, sesungguhnya Allah Maha Penyayang pada kalian.” (Q.S An-Nisa’: 29)

e. Puasa mengkhususkan pada hari Jum’at. Nabi bersabda:

“Sesungguhnya hari Jum’at itu merupaka hari raya kalian, maka janganlah kalian puasa di dalamnya, kecuali kalian berpuasa di hari sebelumnya atau sesudahnya.” (HR. Bazzar dengan sanad yang baik)[4]

f. Puasa Wishal, yaitu meneruskan puasa selama dua hari atau lebih tanpa berbuka. Nabi bersabda:

“Tinggalkanlah dari kaliah puasa wishal.” (Mutafaqqun ‘Alaih).

g. Puasa pada hari yang diragukan. Yaitu pda tanggal 30 Sya’ban, karena Rasulullah bersabda:

“Baragsiapa berpuasa pada hari yang diragukan, sungguh ia telah durhaka kepada Abu Al-Qashim (Rasulullah saw).” (HR. Ash-Habus Sunan)[5]

h. Puasa sepanjang tahun tanpa berbuka. Nabi bersabda:

“Tidaklah berpuasa orang yang berpuasa selama-lamanya.” (HR. Muslim).

i. Puasa istri tanpa izin suaminya, padahal suaminya ada di tempat (rumah). Nabi bersabda:

“Janganlah istri berpuasa satu hari saja, sedang suaminya berada di rumah melainkan dengan izinnya, kecuali puasa Ramadhan.” (Mutafaqun ‘Alaih).

B. Hal-hal yang Membatalkan Puasa

1. Masuknya sesuatu kedalam perut melalui manapun dengan disengaja.

2. Keluarnya air mani dengan sengaja

3. Muntah dengan sengaja

4. Melakukan hubungan suami-istri

5. Dipaksa makan, minum dan hubungan suami-istri

6. Haidh dan nifas

7. Murtad dari Islam. Allah berfirman:

“Jika kamu mempersekutuan (Rabb), niscaya akan hapuslah amalmu dan tentulah kamu termasuk orng-orng yang merugi.” (Q.S Az-Zuma: 65).

Semua pembatal diatas membatalkan puasa dan wajib penggantian puasa. Hanya saja tidak ada kafarat[6] di dalamnya, sebab kafarat tidak diwajibkan kecuali terhadap dua pembatal, yaitu:

1. Jima’ (melakukan hubungan suami-istri).

2. Makan dan minum tanpa udzur yang diperbolehkan.

C. Hikmah Puasa[7]

· Hikmah dari segi spiritual:

1. Membiasakan orang yang berpuasa untuk bersabar

2. Menguatkan kesabarannya

3. Mengajarkan dan membantu pengendalian diri,

4. Memunculkan sifat takwa dalam diri.

· Hikmah dari segi sosial:

1. Membiasakan umat Islam teratur

2. Bersatu,

3. Akhlak berbuat baik,

4. Melindungi masyarakat dari keburukan dan kerusakan

· Himah dari segi kesehatan:

1. Membersihkan usus-usus

2. Memperbaiki lambung,

3. Membersihkan badan dari kotoran-kotoran,

4. Meringankan badan dari himpitan kegemukan. Rasulullah bersabda:

“Puasalah kalian, niscaya kalian sehat.” (HR. Ibnu As-Sunni dan Abu Nu’aim. As-Suyuthi meng-hasan-kan hadist ini).

D. Filosofi Puasa

Tradisi puasa jauh sebelum diwajibkan untuk umat Islam, telah dilaksanakan oleh beberapa Nabi terdahulu, walaupun dengan model dan format yang berbeda, tetapi secara substansial memiliki kesamaan dengan kewajiban puasa dalam Islam, agar manusia “bertakwa”, dalam pengertian universalnya. Menjadikan puasa sebagai yang tersebut diatas, harus dilakukan dengan pemahaman yang mendalam tentang hakikat puasa itu sendiri. Puasa selanjutnya harus dipahami sebagai upaya membentuk keshalehan individual dan keshalehan sosial, berdasarkan konsep kesadaran ketuhanan yang menjadi tujuan utama puasa, terlepas dari dampak fisiologis-jasmaniah puasa.

Dengan berpuasa, melalui pemaknaan essensial terhadapnya, manusia diharapkan dapat merefleksikan kondisi real penderitaan kaum miskin dan orang-orang mustadz’ifin dalam perjumpaan mereka dengan realitas ke dalam mainstream individual, merasakan penderitaan mereka untuk kemudian mengkonstruksikan sebuah komitmen moral, bahwa sungguh kemiskinan adalah musuh objektif kemanusiaan.

Puasa adalah suatu upaya akhlak engineering menuju terbentuknya sebuah kesadaran ketuhanan (god consciousness).Jika demikian halnya, maka berpuasa dapat dijadikan sebagai solusi alternative untuk mewujudkan masyarakat yang berperadaban damai dengan karakter humanis.[8]

DAFTAR PUSTAKA

Jabir Al-Jazairi, Abu Bakar. 2007. Ensiklopedi Muslim. Jakarta Timur: Darul Falah

Rasyid, Sulaiman. 1955. Fiqh Islam. Jakarta: At-Tahirijah

Sabiq, Sayyid. 1982. Fikih Sunnah 3. Bandung: PT Al-Ma’arif

Thalib, Muhammad. 2005. 120 Amaliah Sunnah dan Pahalanya. Solo: YPIA Al-Mukmin


__________________________
[1] Lihat Ensiklopedi Muslim bab puasa-puasa yang disunnahkan.

[2] Lihat Fikih Sunnah(3/188/184).

[3] Lihat Ensiklopedi Muslim bab puasa-puasa yang diharamkan.

[4] Lihat Fikih Sunnah(3/190/187).

[5] Idem(3/193/191).

[6] Kafarat ialah sesuatu yang menghapus dosa karena tidak taat kepada pembuat syari’at (Allah ‘Azza wa Jalla).

[7] Lihat Ensiklopedi Muslim bab hikmah puasa.

Baca selengkapnya »»