PERKEMBANGAN ASPEK FISIK, MOTORIK, KOGNITIF, BAHASA, MORAL, SOSIAL, EMOSI DAN AGAMA DARI BAYI HINGGA KANAK-KANAK
A. Perkembangan Aspek Fisik
Daur Pertumbuhan Fisik
Petumbuhan fisik tidak dapat dikatakan mengikuti pola ketetapan yang
tertentu. Pertumbuha tesebut terjadi secara bertahap atau dengan kata
lain seperti naik turunnya gelombang adakalanya cepat adakalanya lambat.
Daur Pertumbuha Utama
Studi tentang pertumbuhan fisik telah menunjukkan bahwa pertumbuha
anak dapat di bagi menjadi 4 periode utama, dua periode ditandai dengan
pertumbuhan yang cepat da dua periode lainnya dicirikan oleh pertumbuhan
yang lambat. Selama periode pralahir dan 6 bulan setelah lahir,
pertumbuhan tubuhnya sagat cepat. Pada akhir tahun pertama kehidupan
pasca lahirnya, pertumbuhan memperlihatkan tempo yang sedikit lambat dan
kemudian menjadi stabil sampai si anak memasuki tahap remaja, atau
tahap kemataga kehidupa seksualnya.
Keanekaragaman Daur Pertumbuhan
Ukuran dan bangun tubuh yag diwariskan secara genetik, juga
mempengaruhi laju pertumbuhan tersebut. Anak-anak yang mempunyai bangun
tubuh kekar biyasanya akan tumbuh dengan cepat dibandingkan dengan
mereka yang bangun tubuhnya kecil atau sedang. Anak-anak dengan bangun
tubuh besar ini, biyasanya akan memasuki tahap remaja lebih cepat dari
pada teman sebayanya yang mempunyai bangun tubuh lebih kecil.
Besar Kecilnya Ukuran Tubuh
Besar kecilya tubuh seseorang dipengaruhi oleh factor keturunan dan
juga factor lingkungan. Faktor keturunan menentukan cara kerja hormon
yang mengatur pertumbuhan fisik yang dikelurka oleh lobus anterior dari
kelenjar pituitary, suatu kelejar kecil yang terletak didasar sebelah
bawah otak.
Tinggi Tubuh
Anak-anak dengan usia sebaya dapat memparlihatkan tinggi tubuh yang
sangat berbeda, tetapi pola pertumbuhan tinggi tubuh mereka tetap
mengikuti aturan yang sama. Bila dihitung secara rata-rata, pola ini
dapat menggambarkan pertumbuhan anak pada usia tertentu. hal ini
dipenganruhi oleh faktor dari dalam (gen) dan faktor dari luar seperti
asupan gizi yang memadai untuk pertumbuhan tinggi badan
Berat Tubuh
Rata-rata berat bayi ketika dilahirkan adalah 3 sampai 4 kg, tatapi ada juga beberapa bayi yany beratnya 1½ sampai 2
kg.Pada
waktu berusia 2 dan 3 tahun berat tubuh anak akan bertabah 1½ sampai 2 ½
kg setiap tahunnya. Setelah anak berusia 3 tahun, nampak berat tubuh
tidak lagi bertambah dengan cepat, bahkan cenderung pelahan sampai
saatnya nanti ia memasuki usia remaja. Pada usia 5 tahun, seorang anak
yang normal akan memiliki berat tubuh yang berkisar antara 40 dan 45
kg.
Proporsi Tubuh
Proporsi tubuh atau perbandingan besar kecilnya anggota badan secara
keseluruhan pada bayi jelas berbeda dari proporsi orang dewasa.
Pertumbuhan tinggi dan berat badan menunjukkan bahwa pertumbuhan tinggi
badan anak lebih cepat dari pada pertumbuhan berat badannya. Kecuali
pada tahun pertama kehidupan sewaktu ia tumbuh dengan cepat
Tulang
Perkembangan tulang yang terjadi pada setiap manusia biasaya mencakup
pertumbuhan tulang, perubahan jumlah tulang, dan perubaha komposisi
tulang. Perkembangan tulang ini sejalan dengan kecenderungan pertumbuhan
umumnya yaitu pada tahu pertama pertumbuhan cepat sekali, kemudia
lambat da pada saat remaja menjadi cepat kembali.
Pertumbuhan tulang terjadi karea memang ada pemajanga pada ujung
tulang. Epiphisis, juga disebut tulang rawa memisahka baying tulang atau
yang disebut diaphsis dari tulang laiya.
Otot dan Lemak
Pada saat seseorang dilahirkan, dia sudah mempunyai serabut otot,
tetapi masih belum berkembang. Setelah kelahiraya, serabut ini akan
berubah ukuran, betuk dan komposisi. Pajag, lebar, dan ketebalan otot
ini akan mengalami proses pertumbuhan. Memasuki usia dewasa, otot ini
telah berkembang sebanyak lima kali dari saat dilahirkan.
Dalam perkembangan pembentukan sel lemak ada tiga periode kriis.
Periode pertama selama tiga bulan terakhir kehidupan pra lahir, periode
kedua selama dua sampai tiga tahun kehidupa pasca lahir dan periode ke
tiga atara usia sebelas sampai tiga belas tahun.
Gigi
Biasanya gigi susu sudah akan memotong graham bayi ketika ia berusia
enam sampai delapan bulan, tetapi kapan tepatnya gigi itu tumbuh keluar
tergantug pada kesehatan, keturuan, gizi, jenis kelamin anak, dan factor
lainnya. Rata-rata anak usia sembilan bulan sudah memilki tiga gigi
sedangkan pada usia dua sampai dua setengah tubuh mereka akan memiliki
dua puluh gigi susu yang telah tumbuh.
Setelah gigi susu tumbuh sempurna, dalam gusi anak nantinya calon
gigi tetap mlai diberi kapur pengguat. Urutan gigi tetap yag diberi
kapur penguat ini sama dengan proses terjadinya pemunculan gigi susu.
Rata-rata anak berusia enam tahun akan mempunyai satu atau dua gigi
tetap, pada usia sepuluh tahun mempunyai empat belas sampai enam belas
gigi susu, da pada usia 13 tahun telah memiliki 27 atau 28 gigi tetap.
Empat gigi tetap terakir, yang serig disebut sebagai gigi kebijakan akan
tumbuh pada usia 17 dan 25 tahun.
B. Perkembangan Aspek Bahasa (berbicara)
Perkembangan bahasa di tingkat pemula ( bayi) dapat dianggap semacam persiapan berbicara.
- Pada bulan-bulan pertama, bayi hanya pandai menangis. Dalam hal ini tangisan bayi dianggap sebagai pernyataan rasa tidak senang.
- Kemudian ia menangis dengan cara yang berbeda-beda menurut maksud yang hendak dinyatakannya.
- Selanjutnya ia mengeluarkan bunyi ( suara-suara ) yang banyak
ragamnya. tetapi bunyi-bunyi itu belum mempunyai arti , hanya untuk
melatih pernapasan saja.
- Menjelang ussia pertengahan di tahu pertama, ia meniru suara-suara
yang didengarkannya, kemudian mengulangi suara tersebut, tetapi bukan
karna dia sudah mengerti apa yang dikatakan kepadanya.
Ada dua alasan mengapa bayi belum pandai berbicara: pertama,
alat-alat bicaranya belum sempurna. Kedua, untuk dapat berbicara, ia
memerlukan kemampuan berpikir yang belum dimiliki oleh anak bayi.
Kemampuan berbicara dapat dikembangkan melalui belajar dan berkomunikasi
dengan orang lain secara timbal balik.
Ditingkat pemula ( bayi ) tidak ada perbedaan perkembangan bahasa
antara anak yang tuli dengan anak yang biasa. Anak tuli juga menyatakan
perasaan tak senang dengan cara menangis. sedangkan rasa senangnya
dinyatakan dengan berbagai macam suara raban, tetapi tingkat
perkembangan bahasa yang selanjutnya tidak dialami olehnya. Ia tidak
mampu mengulangi suara-suara rabannya dan suara orang lain. Jika ia
nanti sudah besar, ia akan menjadi bisu.
Pada mulanya motif anak mempelajari bahasa adalah agar dapat memenuhi:
- keinginan untuk memperoleh informasi tentang lingkungannya,
diri sendiri, dan kawan-kawannya ini terlihat pada anak usia 2
setengah – 3 tahun.
- Memberi perintah dan menyatakan kemauannya.
- Pergaulan social dengan orang lain.
- Menyatakan pendapat dan ide-idenya.
Perkembangan bahasa seorang anak menurut Clara dan William Stern,
ilmuan bangsa Jerman, dibagi dalam empat masa, yaitu: masa kalimat satu
kata, masa memberi nama, masa kalimat tunggal dan masa kalimat majemuk.
- Kalimat satu kata: satu tahun s.d satu tahun enam bulan
Dalam masa pertama ini seorang anak mulai mengeluarkan suara-suara
raban yakni permainan dengan tenggorokan, mulut dan bibir supaya selaput
suara menjadi lebih lembut. Selain itu di masa ini seorang anak sudah
dapat menirukan suara-suara walaupun tidak begitu sama persis dengan
bunyi aslinya. Di masa ini juga mulai terbentuknya satu kata. Anak sudah
mulai bisa mengucapkan kata seperti “ibu” dan lainnya.
- Masa memberi satu nama: satu setengah tahun s.d dua tahun
Dalam masa kedua ini terjadi masa
apa itu, masa dimana mulai
timbul suatu dorongan dalam diri seorang anak untuk mengetahui banyak
hal. Inilah yang menyebabkan anak akan sering bertanya apa ini? apa itu?
siapa ini? dan lainnya. Dan di masa ini kemampuan anak merangkai kata
mulai meningkat. Dulu yang hanya bisa satu kata, bertambah menjadi dua
kata, tiga kata hingga lebih sempurna.
- Masa kalimat tunggal: dua tahun s.d setengah tahun.
Dalam masa ketiga ini terdapat usaha anak untuk dapat berbahasa
dengan lebih baik dan sempurna. Anak mulai bisa menggunakan kalimat
tunggal serta menggunakan awalan dan akhiran pada kata. Namun tak jarang
anak membuat kata-kata baru yang lucu didengar dengan menggunakan
caranya sendiri.
- Masa kalimat majemuk : dua tahun enam bulan dan seterusnya.
Di tahap ini seorang anak sudah dapat mengucapkan kalimat yang lebih
panjang dan sempurna,baik berupa kalimat majemuk dan berupa pertanyaan,
sehingga susunan bahasanya terdengar lebih sempurna.
C. Perkembangan Aspek Moral
Untuk mempermudah dalam membahas perkembangan moral, prlu untuk dimengerti arti istilah tersebut.
Perilaku moral berarti perilaku yang sesuai dengan kode
moral kelompok sosial. “Moral”berasal dari kata latinyang berarti
tatacara, kebiasaan dan adat. Perilaku moral dikendalikan oleh
konsep-konsep moral- peraturan perilakuyang telah menjadi kebiasaan bagi
anggota suatu budaya dan yang menentukan popla perilaku yang diharapkan
dari seluruh anggota kelompok.
Perilaku tak bermoral berarti perilaku yang tidak sesuai
dengan harapan sosial. perilaku demikian tidak disebabkan oleh ketidak
acuhan akan harapan sosial, melainkan ketidak setujuan dengan standart
sosial atau kurang adanya perasaan wajib menyesuaikan diri.
Perilaku amoral berarti perilaku yang lebih disebabkan
ketidak acuhan terhadap harapan kelompok sosial dari pada pelanggaran
sengaja terhadap standart kelompok. Beberapa diantara perilaku anak
kecil lebih bersifat amoral dari pad takbermoral.
Pada saat lahir, tidak ada anak yang memiliki hati nurani atau skala
nilai. Akibatnya, tiap bayi yang baru lahir dapat dianggap amoral. Tidak
seorang anakpun dapat diharapkan mengembangkan kode moral sendiri.
Maka, tiap anak harus diajarkan standart kelompok tentang yang bernar
dan yang salah.
Dalam mempelajari sikap moral, terdapat empat pokok utama:
1) Mempelajari apa yang diharapkan kelompok sosial dari
anggotanya sebagaimana dicantumkan dalam hukum, kebiasaan, dan
peraturan.
2) Mengembangkan hati nurani.
3) Belajar mengalami perasaan bersalah dan rasa malu bila perilaku individu tidak sesuai dengan harapan kelompok.
4) Mempunyai kesempatan untuk interaksi sosial untuk belajar apa saja yang diharapkan anggota kelompok.
Pola Perkembangan Moral
Menurut Peaget, perkembangan moral terjadi dalam dua tahap. Tahap
pertama disebut tahap realisme moral ( moralitas oleh pembatasan”. Tahap
kedua disebut moralitas otonomi ( moralitas oleh kerja sama atau
hubungan timbal balik)
Dalam tahap yang pertama ini seorang anak menilai tindakan sebagai
benar atau salah atas dasar konsekuensinya dan bukan berdasarkan
motifasi dibelakangnya. Moral anak otomatis mengikuti peraturan tanpa
berfikir atau menilai, dan cendrung menganggap orang dewasa yang
berkuasa sebagai maha kuasa. Yang paling penting menurut Piaget bahwa
anak menilai suatu perbuatan benar atu salah berdasarkan hukuman bukan
pada nilai moralnya.
Di tahap kedua perkembangan kognitif anak telah terbentuk sehingga
dia dapat mempertimbangkan semua cara yang mungkin untuk memecahkan
masalah tertentu. Anak mulai dapat melihat masalah dari berbagai sudut
pandang dan dapat mempertimbangkan berbagai faktor untuk memecahkan
masalah.
D. PERKEMBANGAN AGAMA
1). Perkembangan Jiwa Beragama
Dalam rentang kehidupan terdapat beberapa tahap perkembangan. Menurut
Kohnstamm, tahap perkembangan kehidupan manusia dibagi menjadi lima
periode, yaitu:
1. Umur 0 – 3 tahun, periode vital atau menyusuli.
2. Umur 3 – 6 tahun, periode estetis atau masa mencoba dan masa bermain.
3. Umur 6 – 12 tahun, periode intelektual (masa sekolah)
4. Umur 12 – 21 tahun, periode social atau masa pemuda.
5. Umur 21 tahun keatas, periode dewasa atau masa kematangan fisik dan psikis seseorang.
Elizabeth B. Hurlock merumuskan tahap perkembangan manusia secara lebih lengkap sebagai berikut:
1. Masa Pranatal, saat terjadinya konsepsi sampai lahir.
2. Masa Neonatus, saat kelahiran sampai akhir minggu kedua.
3. Masa Bayi, akhir minggu kedua sampai akhir tahun kedua.
4. Masa Kanak- Kanak awal, umur 2 – 6 tahun.
5. Masa Kanak- Kanak akhir, umur 6 – 10 atau 11 tahun.
6. Masa Pubertas (pra adolesence), umur 11 – 13 tahun
7. Masa Remaja Awal, umur 13 – 17 tahun. Masa remaja akhir 17 – 21 tahun.
8. Masa Dewasa Awal, umur 21 – 40 tahun.
9. Masa Setengah Baya, umur 40 – 60 tahun.
10. Masa Tua, umur 60 tahun keatas.
2. Agama Pada Masa Anak- Anak
Sebagaimana dijelaskan diatas, yang dimaksud dengan masa anak- anak
adalah sebelum berumur 12 tahun. Jika mengikuti periodesasi yang
dirumuskan Elizabeth B. Hurlock, dalam masa ini terdiri dari tiga
tahapan:
1. 0 – 2 tahun (masa vital)
2. 2 – 6 tahun (masa kanak- kanak)
3. 6 – 12 tahun (masa sekolah)
Anak mengenal Tuhan pertama kali melalui bahasa dari kata- kata orang
yang ada dalam lingkungannya, yang pada awalnya diterima secara acuh.
Tuhan bagi anak pada permulaan merupakan nama sesuatu yang asing dan
tidak dikenalnya serta diragukan kebaikan niatnya. Tidak adanya
perhatian terhadap tuhan pada tahap pertama ini dikarenakan ia belum
mempunyai pengalaman yang akan membawanya kesana, baik pengalaman yang
menyenangkan maupun yang menyusahkan. Namun, setelah ia menyaksikan
reaksi orang- orang disekelilingnya yang disertai oleh emosi atau
perasaan tertentu yang makin lama makin meluas, maka mulailah
perhatiannya terhadap kata tuhan itu tumbuh.
Perasaan si anak terhadap orang tuanya sebenarnya sangat kompleks. Ia
merupakan campuran dari bermacam- macam emosi dan dorongan yang saling
bertentangan. Menjelang usia 3 tahun yaitu umur dimana hubungan dengan
ibunya tidak lagi terbatas pada kebutuhan akan bantuan fisik, akan
tetapi meningkat lagi pada hubungan emosi dimana ibu menjadi objek yang
dicintai dan butuh akan kasih sayangnya, bahkan mengandung rasa
permusuhan bercampur bangga, butuh, takut dan cinta padanya sekaligus.
Menurut Zakiah Daradjat, sebelum usia 7 tahun perasaan anak terhadap
tuhan pada dasarnya negative. Ia berusaha menerima pemikiran tentang
kebesaran dan kemuliaan tuhan. Sedang gambaran mereka tentang Tuhan
sesuai dengan emosinya. Kepercayaan yang terus menerus tentang Tuhan,
tempat dan bentuknya bukanlah karena rasa ingin tahunya, tapi didorong
oleh perasaan takut dan ingin rasa aman, kecuali jika orang tua anak
mendidik anak supaya mengenal sifat Tuhan yang menyenangkan. Namun pada
pada masa kedua (27 tahun keatas) perasaan si anak terhadap Tuhan
berganti positif (cinta dan hormat) dan hubungannya dipenuhi oleh rasa
percaya dan merasa aman.
3. Tahap Perkembangan Beragama Pada Anak
Sejalan dengan kecerdasannya, perkembangan jiwa beragama pada anak dapat dibagi menjadi tiga bagian:
a) The Fairly Tale Stage (Tingkat Dongeng)
Pada tahap ini anak yang berumur 3 – 6 tahun, konsep mengeanai Tuhan
banyak dipengaruhi oleh fantasi dan emosi, sehingga dalam menanggapi
agama anak masih menggunakan konsep fantastis yang diliputi oelh
dongeng- dongeng yang kurang masuk akal. Cerita akan Nabi akan
dikhayalkan seperti yang ada dalam dongeng- dongeng.
Pada usia ini, perhatian anak lebih tertuju pada para pemuka agama
dari pada isi ajarannya dan cerita akan lebih menarik jika berhubungan
dengan masa anak-anak karena sesuai dengan jiwa kekanak- kanakannya.
Dengan caranya sendiri anak mengungkapkan pandangan teologisnya,
pernyataan dan ungkapannya tentang Tuhan lebih bernada individual,
emosional dan spontan tapi penuh arti teologis.
b) The Realistic Stage (Tingkat Kepercayaan)
Pada tingkat ini pemikiran anak tentang Tuhan sebagai bapak beralih
pada Tuhan sebagai pencipta. Hubungan dengan Tuhan yang pada awalnya
terbatas pada emosi berubah pada hubungan dengan menggunakan pikiran
atau logika.
Pada tahap ini teradapat satu hal yang perlu digaris bawahi bahwa
anak pada usia 7 tahun dipandang sebagai permulaan pertumbuhan logis,
sehingga wajarlah bila anak harus diberi pelajaran dan dibiasakan
melakukan shalat pada usia dini dan dipukul bila melanggarnya.
c) The Individual Stage (Tingkat Individu)
Pada tingkat ini anak telah memiliki kepekaan emosi yang tinggi,
sejalan dengan perkembangan usia mereka. Konsep keagamaan yang
diindividualistik ini terbagi menjadi tiga golongan:
- Konsep ketuhanan yang konvensional dan konservatif dengan dipengaruhi sebagian kecil fantasi.
- Konsep ketuhanan yang lebih murni, dinyatakan dengan pandangan yang bersifat personal (perorangan).
- Konsep ketuhanan yang bersifat humanistik, yaitu agama telah menjadi
etos humanis dalam diri mereka dalam menghayati ajaran agama.
Berkaitan dengan masalah ini, Imam Bawani membagi fase perkembangan agama pada masa anak menjadi empat bagian, yaitu:
a. Fase dalam kandungan
Untuk memahami perkembangan agama pada masa ini sangatlah sulit,
apalagi yang berhubungan dengan psikis ruhani. Meski demikian perlu
dicatat bahwa perkembangan agama bermula sejak Allah meniupkan ruh pada
bayi, tepatnya ketika terjadinya perjanjian manusia atas tuhannya,
b. Fase bayi
Pada fase kedua ini juga belum banyak diketahui perkembangan agama
pada seorang anak. Namun isyarat pengenalan ajaran agama banyak
ditemukan dalam hadis, seperti memperdengarkan adzan dan iqamah saat
kelahiran anak.
c. Fase kanak- kanak
Masa ketiga tersebut merupakan saat yang tepat untuk menanamkan nilai
keagamaan. Pada fase ini anak sudah mulai bergaul dengan dunia luar.
Banyak hal yang ia saksikan ketika berhubungan dengan orang-orang orang
disekelilingnya. Dalam pergaulan inilah ia mengenal Tuhan melalui
ucapan- ucapan orang disekelilingnya. Ia melihat perilaku orang yang
mengungkapkan rasa kagumnya pada Tuhan. Anak pada usia kanak- kanak
belum mempunyai pemahaman dalam melaksanakan ajaran Islam, akan tetapi
disinilah peran orang tua dalam memperkenalkan dan membiasakan anak
dalam melakukan tindakan- tindakan agama sekalipun sifatnya hanya
meniru.
d. Masa anak sekolah
Seiring dengan perkembangan aspek- aspek jiwa lainnya, perkembangan
agama juga menunjukkan perkembangan yang semakin realistis. Hal ini
berkaitan dengan perkembangan intelektualitasnya yang semakin
berkembang.
4. Sifat agama pada anak
Sifat keagamaan pada anak dapat dibagi menjadi enam bagian:
a. Unreflective (kurang mendalam/ tanpa kritik)
Kebenaran yang mereka terima tidak begitu mendalam, cukup sekedarnya
saja. Dan mereka merasa puas dengan keterangan yang kadang- kadang
kurang masuk akal. Menurut penelitian, pikiran kritis baru muncul pada
anak berusia 12 tahun, sejalan dengan perkembangan moral.
b. Egosentris
Sifat egosentris ini berdasarkan hasil ppenelitian Piaget tentang
bahasa pada anak berusia 3 – 7 tahun. Dalam hal ini, berbicara bagi
anak-anak tidak mempunyai arti seperti orang dewasa.
Pada usia 7 – 9 tahun, doa secara khusus dihubungkan dengan kegiatan
atau gerak- gerik tertentu, tetapi amat konkret dan pribadi. Pada usia 9
– 12 tahun ide tentang doa sebagai komunikasi antara anak dengan ilahi
mulai tampak. Setelah itu barulah isi doa beralih dari keinginan
egosentris menuju masalah yang tertuju pada orang lain yang bersifat
etis.
c. Anthromorphis
Konsep anak mengenai ketuhanan pada umumnya berasal dari
pengalamannya. Dikala ia berhubungan dengan orang lain, pertanyaan anak
mengenai (bagaimana) dan (mengapa) biasanya mencerminkan usaha mereka
untuk menghubungkan penjelasan religius yang abstrak dengan dunia
pengalaman mereka yang bersifat subjektif dan konkret.
d. Verbalis dan Ritualis
Kehidupan agama pada anak sebagian besar tumbuh dari sebab ucapan
(verbal). Mereka menghafal secara verbal kalimat- kalimat keagamaan dan
mengerjakan amaliah yang mereka laksanakan berdasarkan pengalaman mereka
menurut tuntunan yang diajarkan pada mereka. Shalat dan doa yang
menarik bagi mereka adalah yang mengandung gerak dan biasa dilakukan
(tidak asing baginya).
e. Imitatif
Tindak keagamaan yang dilakukan oleh anak pada dasarnya diperoleh
dengan meniru. Dalam hal ini orang tua memegang peranan penting.
Pendidikan sikap religius anak pada dasarnya tidak berbentuk pengajaran, akan tetapi berupa teladan
f. Rasa heran
Rasa heran dan kagum merupakan tanda dan sifat keagamaan pada anak.
Berbeda dengan rasa heran pada orang dewasa, rasa heran pada anak belum
kritis dan kreatif. Mereka hanya kagum pada keindahan lahiriah saja.
Untuk itu perlu diberi pengertian dan penjelasan pada mereka sesuai
dengan tingkat perkembangan pemikirannya. Dalam hal ini orang tua dan
guru agama mempunyai peranan yang sangat penting.
E. PERKEMBANGAN SOSIAL
Menurut keyakinan tradisional sebagian manusia dilajirkan dengan
sifat social dansebagian tidak. Orang yang lebih banyak merenungi diri
sendiri daripada bersama-sama dengan orang lain, atau mereka yang
bersifat social pikirannya lebih banyak tertuju pada hal-hal diluar
dirinya, secara ‘alamiah’ memang sudah bersifat demikian, atau karena
factor keturunan. Juga orang yang menentang masyarakat yaitu orang yang
anti social.
1). Mulainya Perilaku Sosial
Pada waktu lahir, bayi tidak suka bergaul dengan orang lain. Selama
kebutuhan fisik mereka terpenuhi, mereka tidak mempunyai minat terhadap
orang lain. Pada vulan pertama atau kedua sejak bayai dilahirkan, mereka
semata-mata bereaksi terhadap rangsangan dilingkungan mereka, terlepas
dari apakah asal rangsangan itu manusia atau benda, sebagai contoh,
mereka tidak dapat membedakan dengan jelas antara suara manusia dan
suara lainnya.
Sosialisasi dalam bentuk perilaku yang suka bergaul dimulai pada
bulan ketiga, tatkala bayidapat membedakan antaramanusia dan benda
dilingkungan mereka dan mereka bereaksi secara berbeda terhadap
keduanya. Pada saat itu otot mereka cukup kuat dan terkoordinasi
sehingga memunginkan untuk menatap orang atau benda dan mengikuti gerak
orang ataubenda tersebut, dan melihat sasaran itu dengan jelas.
Pendengaran mereka juga cukup berkembang sehingga memungkinkan mereka
mengenal suara. Akibat dari perkembangan ini, ditinjau dari sudut
kematangan, mereka telah siap untuk belajar bermasyarakat.
2). Reaksi Terhadap Orang Deewasa
Reaksi social pertama bayi adalah terhadap orang dewasa karena,
secara normal, orang dewasa merupakan hubungan social pertama bayi. Pada
masa bayi menginjak usia tiga bulan, mereka memalingkan muka kearah
suara maa dan tersenyum membalas senyuman atau berketuk. Bayi
mengeksperesikan kegembiraan terhadap kehadiran orang lain dengan
tersenyum, menyepakkan kaki, atau melambaikan tangan.
Senyuman social, atau
senyuman sebagai reaksi terhadap orang yang dibedakan dari senyuman
reflek yang timbul olehrabaan pada pipi atau bibir bayi, dipandang
sebagai awal perkembangan social.
Pada bulan ketiga, bayi menangis ketika ditinggalkan sendiriran dan
mereka berhenti menangis jika diajak berbicara atau dialihkan
perhatiannya dengan suara gemerincing atau bunyi alat lainnya. Bayi
mengenal ibunya dan orang-orang dekat lainnya dan menunjukkan rasa takut
terhadap orang dewasa yang dikenal dengan menangis atau memalingkan
muka.
Pada bulan keempat, bayi melakukan penyesuaian pendahuluan kalau akan
diangkat, memperlihatkan perhatian yang selektif terhadap wajah orang,
melihat ke arah orang yang meninggalkannya, tersenyum kepada seseorang
yang berbicara dengannya, memperlihatkan kegembiraan terhadap perhatian
pribadi, dan tertawa bila diajak bermain,
Dari umur lima sampai enam bulan, bayi bereaksi secara berbeda kepada
senyuman dan omelan, dan dapat membedakan antara suara yang ramah dan
suara yang bernada marah. Bayi mmengenal orang yang sudah akrab dengan
tersenyum, daakutan memperlihatkan ekspresi ketakutan yang jelas
terhdap kehadiran orang yang tidak dikenal. Padausia enam bulan, gerak
social mereka semakin agresif. Sebagai contoh, bayi menarik rambut orang
yang membopongnya, mencekau hidung dan kacamatanya, dan meraba wajah
orang tersebut.
Pada umur tujuh ata Sembilan bulan, bayi berusaha menirukan suara
pembicaraan dan juga menirukan perbuatan dan isyarat yang sederhana.
Pada umur 12bulan, mereka dapat menahan diri untuk melakukan sesuatu
sebagai reaksi atas kata-kata, “jangan-jangan!”. Mereka memperlihatkan
ketakutan dan ketidaksukaan kepada orang yang tidak dikenal dengan
menghindar dan menangis jika ada orang yang tidak dikenal mendekati
mereka. Dari umur 15bulan, bayi memperlihatkan minat yang semakin
bertambah terhadap orang dewasa dan keinginan yang kuat untuk berada
bersama atau menirukan mereka. Pada umur dua tahun, merekadapaat bekerja
sama dengan orang dewasa dalam sejumlah aktivitas sederhana, seperti
membantu ketika dimandikan atau dikenakan baju.
Dengan demikian, jelas bahwa dalam jangka waktu yang relative pendek
bayi berubah dari anggota kelompok yang pasif, yang menerima perhatian
lebih banyak dan memberikan sedikit sebagai balasannya,menjadi anggota
ynag aktif yang memprakarsai hubungan social dan berpartisipasi dalam
aktivitas keluarga. Mereka telah melewati masa tidak suka bergaul dan
tahap social dalam pola perkembangan.
3). Reaksi Terhadap Bayi Lain
Petunjuk pertama yang nyata bahwa bayi memperhatikan bayi lain
terjadi antara umur empat dan lima bulan ketika mereka tersenyum kepada
bayi lain atau memperlihatkan perhatian pada tangis bayi lain. Hubungan
yang ramah diantara bayi biasanya mulai antara umur enam bulan dan
delapan bulan yang mencakup melihat, dan meraba bayi lain. Usaha yang
seringkali menimbulkan perkelahian. Antara umur Sembilan dan 13 bulan,
bayi menyelidiki bayi lain dengan cara menarik rambut atau bajunya,
menirukan perilaku dan suara bayi lain, dan untuk pertama alinya
memperlihatkan kerja sama dalam penggunaan mainan. Jika sebuah
mainandiambil oleh bayi lain, biasanya bayi menjadi marah, berkelahi,
dan menangis.
Reaksi social terhadap bayi lain dan anakanak berkembang pesatpada
umur dua tahun. Pada umur 12 dan 13 bulan, bayi tersenyum dan tertawa
menirukan bayi lain atau anak-anak. Minat mereka berpindah dari mainan
ke bayi lain atau anak-anak, perkelahian berkurang dan pada waktu
bermain mereka lebih banyak bekerja sama. Pada pertengahan akhir tahun
kedua, bayi memandang mainan sebagai alat untuk membina hubungan social.
Mereka bekerjasama dengan teman bermain, mengubah perilaku untuk
menyesuaikan diri dengan aktivitas ke teman bermain, dan melibatkan diri
dalam permainan yang sederhana dengan anak-anak kecil atau anak-anak
yang lebih tua.
4). Perkembangan Sosial Pada Masa Awal Kanak-Kanak
Dari umur dua sampai enam tahun, anak belajar melakukan hubungan
social dan bergaul dengan orang-orang di luar lingkungan rumah, terutama
dengan anak-anak yang umurnya sebaya. Mereka belajar menyesuaikan diri
dan bekerja sama dalam kegiatan bermain. Studi lanjutan tentang kelompok
anak melaporkan bahwa sikap dan perilaku social yang terbentuk pada
usia dini biasanya menetap dan hanya mengalami perubahan sedikit.
Masa kanak-kanak awal sering disebut “usia pragang” (pregang age).
Pada masa ini sejumlah hubungan yang dilakukan anak dengan anak-anak
lain meningkat dan ini sebagian menentukan bagaimana gerak maju
perkembangan social mereka. Anak-anak yang mengikuti pendidikan
prasekolah, misalnya pendidikan untuk anak sebelum taman kanak-kanak
(nursery school), pusat pengasuhan anak pada siang hari (day care
center), atau taman kanak-kanak (kindergarden), biasanya mempunyai
sejumlah besar hubungan social yang telah ditentukan dengan anak-anak
yang umurnya sebaya. Anak yang mengikuti pendidikan prasekolah melakukan
penyesuain social yang lebih baik dibandingkan dengan anak-anak yang
tidak mengikuti pendidikan prasekolah. Alasannya adalah mereka
dipersiapkan secara lebih baik untuk melakukan partisipasi yang aktif
dalam kelompok disbanding dengan anak-anak yang aktivitas sosialnya
terbatas dengan anggota keluarga dan anak-anak dari lingkungan tetangga
terdekat.
Salah satu diantara sejumlah keuntungan pendidikan prasekolah adalah
bahwa pusat pendidikan tersebut memberikan pengalaman social dibawah
bimbingan para guru yang terlatih yang membantu mengembangkan hubungan
yang menyenangkan dan berusaha agar anak-anak tidak mendapat perlakuan
yang mungkin menyebabkan mereka menghindari hubungan social. Akibatnya,
semua reaksi negative kepada anak lain berkurang. Walaupun demikian,
reaksi negative kepada guru kadang-kadang meningkat sedikit setelah anak
lebih suka bergaul dengan teman sebaya daripada dengan orang dewasa.
Setiap tahun berganti, anak kecil semakin kurang menggunakan waktunya
dengan orang dewasa dan hanya memperoleh kesenangan sedikit dari
pergaulan dengan orang dewasa. Pada saat yang sama, minat mereka
terhadap teman sepermainan yang berusia sebaya semakin bertambah dan
kesenangan yang mereka peroleh dari pergaulan ini semakin kuat. Dengan
berkembangnya keinginan terhadap kebebasan, anak-anak mulai melawan
otoritas orang dewasa.
Walaupun ingin mandiri, anak-anak masih berusaha memperoleh perhatian
dan penerimaan dari orang dewasa. Jika mereka telah memperoleh kepuasan
dari perilaku kelekatan pada masa kanak-kanak, mereka akan terus
berusaha membina hubungan yang bersahabat dengan orang dewasa, terutama
anggota keluarga.
5). Hubungan Dengan Anak Lain
Sebelum usia dua tahun, anak kecil terlibat dalam permainan searah.
Meskipun dua atau tiga orang anak bermaindidalam ruangan yang sama dan
dengan jenis mainan yang sama, interaksi social yang terjadi sangat
sedikit. Hubungan mereka terutama terdiri atas meniru atau mengamati
satu sama lain atau berusaha mengambil mainan anak lain.
Sejak umur tiga atau empat tahun, anak-anak mulai bermain bersma
dalam kelompok, berbicara satu sama lain pada saat bermain, dan memilih
dari anak-anak yang hadir siapa yang akan dipilih untuk bermain bersama.
Perilaku yang umum dari kelompok ini ialah mengamati satu sama lain,
melakukan percakapan, dan memberikan saran lisan.
Studi terhadap anak-anak dalam masa prasekolah telah membuktikan
bahwa dengan semakin meningkatnya usia anak, pendekatan yang ramah
meningkat dan interaksi permainan semakin berkurang. Tahun demi tahun
anak laki-laki semakin melakukan pendekatan yang ramah tetapi juga
semakin melakukan pendekatan yang bermusuhan dengan anak lain.
6). Perkembangan Sosial Pada Masa Kanak-Kanak Akhir
Setelah anak memasuki sekolah dan melakukan hubungan yang lebih
banyak dengan anak laindibandingakan degan ketika masa prasekolah, minat
pada kegiatan keluarga berkurang. Pada saat yang sama permainan yang
bersifat individual menggantikan permainan kelompok. Karena permainan
kelompok membutuhkan sejumlah teman bermain, lingkungan pergaulan social
anak yang lebih tua secara bertahap bertambah luas. Dengan berubahnya
minat bermain, keinginan untuk bergaul dengan dan untuk diterima oleh
anak-anak diluar rumah bertambah.
Pada waktu mulai sekolah, anak memasuki “usia gang”, yaitu usia yang
pada saat itu kesadaran social berkembang pesat. Menjadi pribadi yang
social merupakan salah satu tugas perkembangan yang utama dalam periode
ini. Anak menjadi anggota suatu kelompok teman sebaya yang secara
bertahap menggantikan keluarga dalam mempengaruhi perilaku. Kelompok
teman sebaya didefinisikan oleh Havighurst sebagai suatu “kumpulan orang
yang kurang lebih berusia sama yang berfikir dan bertindak
bersama-sama”.
Pada masa transisi dari usia pragag masa kanak-kanak akhir, anak
beralih dari satu kelompok kekelompok lain atau dari aktivitas kelompk
ke aktivitas individual. Tahap “kelompok yang tidak tetap” menjembatani
celah antara usia pragang dan usia gang. Kelompok bermain informal pada
masa sekolah awal hanya terdiri atas dua atau tiga anak. Kelompok itu
dibentuk untuk melakukan suatu aktivitas bermain yang spesifik dan
karenanya bersifat sementara. Aktivitas itu sendiri, yang bukan
merupakan persahabatan, merupakan dasar bagi pengorganisasian kelompok.
Didalam kelompok, kepemimpinan beralih dari anak yang satu ke anak yang
lain, tergantung pada anak mana yang mengambil inisiatif dalam suatu
aktivitass tertentu. Pertengkaran singkat banyak terjadi, tetapi hal ini
tidak menimbulkan pengaruh yang permanent terhadap susunan kelompok.
F. PERKEMBANGAN EMOSI
1. Pola Perkembangan Emosi
Kemampuan untuk bereaksi secara emosional sudah ada pada bayi yang
baru lahir. Gejala pertama perilaku emosional adalah keterangsangan umum
terhadap stimulasi yang kuat. Keterangsangan yang berlebih-lebihan ini
tercermin dalam aktivitas yang banyak pada bayi yang baru lahir.
Meskipun demikian, pada saat bayi lahir, bayi tidak memperlihatkan
reaksi yang secara jelas dapat dinyatakan sebagai keadaan emosional yang
spesifik.
Seringkali sebelum lewatnya periode neonate, keterangsangan umum pada
bayi yang baru lahir dapat dibedakan menjadi reaksi yang sederhana yang
mengesankan tentang kesenangan dan ketidaksenangan. Reaksi yang tidak
menyenangkan dapat diperoleh dengan cara mengubah posisi secara
tiba-tiba, sekonyong-konyong membuat suara keras, merintangi gerakan
bayi, membiarkan bayi mengenakan popok yang basah, dan menempelkan
sesuatu yang dingin pada kulitnya. Rangsangan semacam itu menyebabkan
timbulnya tangisan dan aktivitas besar. Sebaliknya, reaksi yang
menyenangkan tampak jelas tatkala bayi menetek. Reaksi semacam itu juga
dapat diperoleh dengan cara mengayun-ayunkannya, menepuk-nepuknya,
memberikan kehangatan, dan membopongnya dengan mesra. Rasa senang pada
bayi dapat terlihat dari relaksasi yang menyeluruh pada tubuhnya, dan
dari suara yang menyenangkan berupa mendekut dan mendeguk.
Bahkan sebelum bayi berusia satu tahun, ekspresi emosional diketahui
serupa dengan ekspresi pada orang dewasa. Lebih jauh lagi, bayi
menunjukkan berbagai macam reaksi emosional yang semakin banyak, antara
lain kegembiraan, kemarahan, ketakutan, dan kebahagiaan. Reaksi ini
dapat ditimbulkan dengan cara memberikan berbagai macam rangsangan yang
meliputi manusia serta objek dan situasi yang tidak efektif bagi bayi
ynag lebih muda.
Bukan hanya pola emosi umum yang mengikuti alur yang dapat
diramalkan, tetapi pola dari berbagai macam emosi juga dapat diramalkan.
Sebagai contoh, reaksi ledakan marah (temper tantrums) mencapai
puncaknya pada usia antara dua dan empat tahun, dan kemudian diganti
dengan pola ekspresi yang lebih matang, seperti cemberut dan sikap
Bengal.
2. Variasi dalam Pola Perkembangan Emosi
Terdapat variasi dari segi frekuensi, intesitas serta jangka waktu
dari berbagai macam emosi, dan juga usia pemunculannya. Variasi ini
sudah mulai terlihat sebelum masa bayi berakhir dan semakin sering
terjadi dan lebih menyolok dengan meningkatnya usia kanak-kanak.
Dengan meningkatnya usia anak, semua emosi diekspresikan secara lebih
lunak karena mereka harus mempelajari reaksi orang lain terhadap luapan
emosi yang berlenihan, sekalipun emosi itu berupa kegembiraan atau
emosi yang menyenangkan lainnya. Selain itu, karena anak-anak mengekang
sebagian emosi mereka, emosi cenderung bertahan lebih lamadaipada dengan
jika emosi itu diekspresikan secara lebih kuat.
Variasi itu disebabkan oleh keadaan fisik anak pada saat itu dan
taraf intelektualnya, dan sebagian lagi disebabkan oleh kondisi
lingkungan. Anak yang sehat cenderung kurang emosional, dibandingkan
dengan anak yang kurang sehat. Sedangkan ditinjau sebagai suatu
kelompok, anak-anak yang pandai bereaksi lebih emosional terhadap
berbagai rangsangan dibandingkan dengan anak-anak yang kurang pandai.
Mereka juga cenderung lebih mampu mengendalikan ekspresi emosi.
Variasi dipengaruhi oleh reaksi social terhadap perilaku emosional.
Apabila reaksi social ini tidak menyenangkan, misalnya pada rasa takut
atau cemburu, emosi tersebut akan jarang tampak dan terwujud dalam
bentuk yang lebih terkendali dibandingkan dengan apabila reaksi social
yang mereka terima menyenangkan.
Keberhasilan emosi yang memenuhi
kebutuhan anak mempengaruhi
variasi pola emosi. Jika ledakan marah berhasil memenuhi kebutuhan anak
akan perhatian dan memberikanapa yang mereka inginkan. Mereka tidak
hanya akan terus menggunakan perilaku tersebut untuk mencapai tujuan
yang diinginkan.
Ditinjau sebagai suatu kelompok, anak laki-laki lebih sering dan
lebih kuat mengekspresikan emosi yang sesuai dengan jenis kelamin
mereka, misalnya marah, dibandingkan dengan emosi yang dianggap lebih
sesuai bagi perempuan, misalnya takut, cemas, dan kasihsayang. Rasa
cemburu dan marah lebih umum terdapat dikalangan keluarga besar
sedangkan rasa iri lebih umum terdapat dikalangan keluarga kecil. Rasa
cemburu dan ledakan marah juga lebih umum dan lebih kuat dikalangan anak
pertama dibandingkan dengan anak yang lahir kemudian dalam keluarga
yang sama.
Cara mendidik anak yang otoriter mendorong perkembangan rasa cemas
dan takut sedangkan cara mendidik yang (serba membolehkan) permisif atau
demokratis mendorong berkembangnya semangat dan rasa kasih saying.
Anak-anak yang berasal dari keluarga yang berstatus social rendah
cenderung lebih mengembangkan rasa takut dan cemas dibandingkandengan
mereka yang berasal dari keluarga yang berstatus social tinggi.
Ciri Khas Penampilan Emosi Anak
- Emosi yang kuat
- Emosi sering kali tampak
- Emosi bersifat sementara
- Reaksi mencerminkan individualitas
- Emosi berubah kekuatannya
- Emosi dapat diketahui melalui gejala perilaku
3. Pola Emosi yang Umum
Beberapa bulan setelah bayi lahir, muncul berbagai macam pola emosi.
Pola yang paling umum, rangsangan yang membangkitkan emosi dan reaksi
yang khas dari setiap pola dibawah ini, antara lain;
Rangsangan yang umumnya menimbulkan rasa takut pada masa bayi ialah
suara yang keras, binatang, kamar yang gelap, tempat yang tinggi, berada
seorang diri, rasa sakit, orangyang tak dikenal, tempat dan obyek yang
tidak dikenal.
Anak kecil lebih takut kepada benda-benda dibandingkan dengan bayi
atau anak yang lebih tua. Usia antara dua sampai enam tahun merupakan
masa puncak bagi rasa takut yang khas didalam pola perkembangan yang
normal. Alasannya karena anak kecil lebih mampu mengenal bahaya
dibandingkan dengan bayi, tetapi kurangnya pengalaman menyebabkan mereka
kurang mampu mengenal apakah suatu bahay merupakan ancaman pribadi atau
tidak.
Dikalangan anak-anak yang lebih tua, rasa takut terpusat pada bahaya
yang fantastis, adikodrati (supernatural), dan samara-samar pada gelap
dan mahluk imajinatif yang diasosiasikan dengan gelap, pada kematian
atau luka, pada berbagai elemen terutama guntur dan kilat, serta
karakter dalam dongeng, film, buku, komik, dan televisi. Anak yang lebih
tua mempunyai berbagai ketakutan yang berhubungan dengan diri atau
status, mereka takut gagal, takut dicemoohkan, dan takut “berbeda” dari
anak lain.
Merupakan bentuk ketakutan yang ditandai oleh penarikan diri dari
hubungan dengan orang lain yang tidak dikenal atau tidak sering
berjumpa. Rasa malu selalu
ditimbulkan oleh manusia, bukan oleh
binatangatau situasi. Studi terhadap bayi telah menunjukkan bahwa
selama pertengahan tahun pertama kehidupan, rasa malu merupakan reaksi
yang hamper universal terhadap orang yang tidak dikenalatau orang yang
sudah dikenal tetapi memakai baju atau tata rambut yang tidak seperti
biasanya. Ketakutan terhadap orang yang tidak dikenal yang menimbulkan
rasa malu tampak pada perubahan sikap bayi setelah mereka menjadi
terbiasa mengenal kembali orang yang tadinya sudah dikenal. Kemudian,
umumnya bayi berhenti menangis dan bereaksi dengan ramah. Rasa malu
dengan kehadiran orang yang tidak dikenal sangat umum pada tingkat usia
ini sehingga tingkat usia ini sering disebut sebagai “usia yang tidak
dikenal” (the strange age) atau “periode ketakutan yang infantile”.
Pada bayi, reaksi yang umum terhadap rasa malu ialah menangis,
memalingkan muka, dari orang yang tidak dikenal, dan bergayut pada orang
yang sudah akrab untuk berlindung. Hanya apabila mereka telah yakin
bahwa tidak ada bahaya yang nyata barulah mereka mau mendekati orang
yang tidak dikenal itu.
Anak yang lebih tua menunjukkan rasa malu dengan muka memerah, dengan
menggagap, dengan berbicara sesedikit mungkin, dengan tingkah yang
gugup sperti menarik-narik telinga atau baju, dengan menolehkan wajah
kearah lain dan kemudian mengangkatnya dengan tersipu-sipu untuk menatap
orag yang tidak dikenal itu. Mereka berusaha membuat diri mereka
sesedikit mungkin menarik perhatian dengan cara berpakaian seperti orang
lainnya dan berbicara sesedikt mungkin.
G. PERKEMBANGAN KOGNITIF
Perbedaan-perbedaan individual dalam perkembangan kognitif bayi telah
dipelajari melalui penggunaan skala perkembangan atau tes intelegensi
bayi. Adalah penting untuk mengetahui apakah seorang bayi berkembang
pada tingkat yang lambat , normal, atau cepat. Kalau seorang bayi
berkembang pada tingkat yang lambat, beberapa bentuk pengayaan cukup
penting. Akan tetapi bila seorang bayi berkembang pada suatu tahapan
yang lebih maju, orang tua dapat dinasehati untuk memberi mainan yang
lebih “sulit” guna merangsang pertumbuhan kognitif mereka.
Dan skala mental pda perkembangan kognitif bayi meliputi pengukuran sebagai berikut :
Perhatian pendengaran dan penglihatan terhadap rangsangan yang diberikan.
Manipulasi, seperti mengkombinasikan benda-benda atau menggoyang-goyangkan
Suatu mainan yang dapat menghasilkan bunyi.
Interaksi dengan penguji,
DAFTAR PUSTAKA
Dariyo, Agoes. 2007. Psikologi Perkembangan Anak Tiga Tahun Pertama. Bandung: Retika Aditama
Hurlock, Elizabeth B. 2004. Psikologi Perkembangan Jilid 1 & 2. Jakarta: Erlangga
Kartono, Kartini. 1995. Psikologi Anak. Bandung: Mandur Maju
Santrock, Jonh W. 1995. Life-Span Development jilid 1 & 2. Jakarta: Erlangga
Yusuf, Syamsul. 1997. Psikologi Perkembangan Anak dan Remaja. Bandung: Remaja Rosdakarya
Zulkifli. 2003. Psikologi Perkembangan. Bandung: Remaja Rosdakarya